Sabtu, 18 Mei 2019

Neraka itu ada bungkus nya, Bro...

Bismillahirrahmanirrahim
Assalamualaikum, Bro...
Piye kabare..? Ijeh dong poso tohh..??
Semoga kita semua tetep dalam naungan hidayahNya.. sehingga kita tetep bisa menjalani ibadah puasa, baik diri dan jiwa kita..
Sing poso kuwi yo rogo ne yo sukmo ne yoo.. Sa paket yo, Bro....

Ngene, Bro.. Dalam sebuah hikayat yg di tuturkan oleh Al Imam Al-Ghazali Radhiyallahu Anhu dalam kitab Mukasyafatul Qulub di ungkapkan bahwa ketika Gusti Alloh Subhanahu wa ta'ala selesai menciptakan neraka, para malaikat yg menyaksikan berkomentar bahwasanya tidak akan ada satupun dari kalangan umat manusia yg tertarik untuk mendekat pada neraka,, apalagi sampe sengaja mencemplungkan diri di dalamnya...

Akan tetapi Gusti Alloh Subhanahu wa taala kemudian berfirman: "...Sek sek, sebentar,, lihat dulu bungkus nya..."
Rupanya Gusti Alloh sengaja membungkus neraka itu dengan segala sesuatu yg sangat enak, menyenangkan dan cocok bagi selera nafsu manusia,, maka karena itulah kemudian bisa di mengerti kenapa banyak manusia yg berbondong-bondong mendekat pada neraka,, bahkan tidak segan-segan mereka mencebur ke dalamnya,,,
Na'udzubillahi tsumma Na'udzubillahi,,,

Jadi di éling-eling yo, Bro... nek kapan Ono sesuatu sing enak dan menyenangkan Ojo langsung di babat Yo, Bro,,, tapi di pilah-pilah sek,, Iki asli min Fadhli Robby opo mung bungkusé neroko...???

Sekian dan mator nuwun...
Wal afwu minkum,, 
Wassalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh...



Jumat, 03 Mei 2019

Iki Mafhum Mukholafah e

Sayyid Muhammad bin Alwi al-Maliki al-Hasani dalam kitabnya "Tahqîqul Amal fî Mâ Yanfa’ul Mayyita minal A’mâl" memberikan pemahaman lewat sebuah hadits shahih yang berbunyi:

أَنَّ الْمَيِّتَ يُعَذَّبُ بِبُكَاءِ أَهْلِهِ عَلَيْهِ

“Bahwa sesungguhnya mayit itu dapat disiksa sebab tangisan keluarganya.”

Hadits di atas menunjukkan bahwa ternyata orang yang masih hidup itu dapat memberikan pengaruh siksa kepada si mayit atas kuasa Allah. Sedang Allah adalah Dzat Yang Maha Pengasih.
Jika Allah memberikan adzab siksa kepada si mayit sebagai konsekuensi dari perbuatan keluarganya di dunia, maka bukankah mungkin jika Allah juga menyampaikan kenikmatan kepada si mayit sebab amal shalih yang dilakukan keluarganya?

Demikianlah mafhum mukhalafah (logika sebaliknya) yang dipaparkan oleh Abuya Sayyid Muhammad al-Mliki.

Jadi tetep bersamangat ke Kuburan yaa , Bro.....
Beliau semua yang sudah bersemayam di kuburan pasti senang dan bahagia jika kita menziarahi nya dan mendo'akan nya.... In sya Alloh....

اللّممّ إغفرلهم وارحمهم وآفهم واعف عنهم وأكرم نزلهم ووسّع مدخلهم
آمين آمين آمين يارب العالمين



Selasa, 30 April 2019

Manusia manusia kita.

Menjadi manusia itu ...
اياك والناس...ولا بد لك من الناس...لان الناس هم الناس
" iyaakawannaas, walabudda laka minannaas, Lianannaasa humunnaas "

~ iyyakawannaas takutlah kamu ketika bertaut gaul dengan manusia ( jaga hak dan kewajibannya ).
~ wala buddalaka minanaas : dan memang tidak bisa tidak kamu harus bertaut dengan manusia ( tidak ada manusia yang tidak butuh kepada manusia yang lain, pasti setiap manusia saling membutuhkan, dan itulah kenapa manusia disebut makhluk sosial )
~ kenapa harus menjaga hak dan adab kepada manusia ? Lianannaas humunnaas : karena manusia adalah manusia ( oleh karenanya harus bisa memanusiakan manusia ).
Dan..sesungguhnya, sodaraa......
خير الناس أنفعهم للناس
khoirunnas anfa'uhum linnas.
"Sebaik-baik manusia adalah yang paling bermanfaat bagi manusia lain".
Maka,,Jadilah bermanfaat untuk semua manusia di dunia ini,, ora peduli non muslim, ora peduli bajingan, ora peduli musuh, ora peduli bolo, ora peduli mbah kiyai, ora peduli bakul obat, lan sanesipun....



Kamis, 18 April 2019

Belom ada judul.

"Telah kutumpahkan air mata untuk memohon pada Allah SWT. Telah kubaca zikir demi zikir, shalawat demi shalawat, dan ragam kalimat thoyyibah..."

"Tapi kau merasa pintamu tak diijabah Allah SWT ?" potong Kiai Tawakkal.

"Enggèh, Kiai" jawab Kang Aqiel

"Lantas sekarang kau mau apa ? Protes pada Allah ?"

Kang Aqiel diam. 
"Mohon nasehatnya,Kiai. Rasanya seperti memikul gunung Nogo menerima takdir ini.. Berat, berat, dan sungguh berat"

Kiai Tawakkal tertawa.
"Gusti Allah SWT. tak bisa kau dikte dengan kemauanmu. Ia tahu yang terbaik untukmu. Ia peluk engkau tanpa kau sadari. Kau harus bersyukur bahwa Allah SWT adalah Tuhanmu yang memilih kebaikan untukmu dengan ragam ketatapanNya. Kau harus bersyukur bahwa Gusti Allah SWT. bukanlah seperti bayanganmu yang bisa kau sogok dengan rangkaian amaliah yang menurutmu shalih, entah itu ritual zikir, shalawat, dan hal-hal lain. Kau lupa dan menganggap dirimu segalanya dengan amal-amal itu !
Bukankah zikirmu, shalawatmu, shalatmu, dan semuanya ada dalam kuasaNya. Ada dalam keMahaanNya ? Lantas apa yang membuatmu merasa bisa segalanya. 
Misal kau shalat, itu bukan kebutuhan Allah tapi kebutuhan rohanimu. Sebab kebutuhan jiwa dan rohanimu dicukupi oleh Allah. Jadi kau harus bersyukur ketika Allah memberikan kesempatan padamu untuk shalat....

Senantiasa berhusnuddzonlah pada Gusti Allah SWT !
Segala yang kau rasakan saat ini anggap saja sebagai anugrah Allah yang hendak menggemilangkan kalbu syukurmu, sabarmu, dan ihlasmu !
Kelak anugrah terbaik akan kau terima beriring dengan kesiapan lahir batinmu. Paham ?"

"Nggeh Kiai"


Sabtu, 23 Februari 2019

Pasar Gelap UstazD

Saya berkali-kali menyampaikan, hati-hati mencari ustaz. Jangan sembarangan mengundang orang untuk mengisi pengajian, memanggil dia ustaz, apalagi menyebutnya sebagai ulama.,,
Saya perlu semakin serius mengingatkan hal ini. Karena semakin banyak orang-orang yang hanya bermodal bisa pidato, berbaju gamis, mengumpat sana-sini diundang kemana-mana, dipanggil ustaz. Hafal satu dua ayat al-Quran dan hadis cukup menjadi modal.
Pasar gelap ustaz ini biasanya dihuni dua kelompok besar. Pertama, para muallaf. Beberapa muallaf, meskipun tidak punya ilmu keislaman yang cukup, tiba-tiba dia menjadi ustaz karena modal bisa pidato. Yang paling banyak diceramahkan biasanya menjelek-jelekkan keyakinan lamanya. Dia ingin menunjukkan sekarang sudah mendapat "hidayah". Tak lupa, biasanya juga menebar ketakutan, bahwa agama lamanya itu menjadi ancaman terhadap Islam. Kalau melihat orang seperti ini, saya sering jengkel sendiri, membayangkan kalau ada orang keluar dari Islam kemudian menjelek-jelekkan Islam dalam komunitas agamanya yang baru. Orang-orang seperti ini yang biasanya menaikkan ketegangan muslim dan non muslim.,,
Kedua, orang-orang yang dulu jauh dari Islam, suka maksiat dan sebagainya, kemudian berubah menjadi lebih religius, mengubah penampilan dan sebagainya. Orang-orang seperti ini biasanya menyebut diri sebagai orang yang sudah "hijrah". Modal kegelapan masa lalu dieksploitasi, seolah sekarang sudah benar-benar hidup dalam terang. Dengan modal bisa pidato, punya tim media sosial untuk menaikkan popularitasnya, mereka tiba-tiba dipanggil ustaz dan dijadikan rujukan dalam beragama.,,
Duakelompok ini, intinya sama. Mereka tidak punya otoritas keagamaan, tapi dimanjakan oleh situasi. Mareka memanfaatkan media sosial untuk marketing. Yang saya heran, orang-orang seperti ini banyak yang tidak tahu diri soal kapasitas keislamannya.,, Na'udZubillahi min dzalika...
pasar gelap ustaz ini bisa terjadi karena dua hal. Pertama, Islam memang longgar dan tidak ada lembaga yang melakukan "standarisasi" keulamaan seseorang. Pasar ustaz dalam Islam sangat terbuka. Semua sangat tergantung pada "pasar". Jika Anda populer, ceramahnya disukai orang, maka Anda bisa masuk dalam pasar keulamaan ini, Bro..
Kedua sekarang banyak sarana yang bisa digunakan untuk branding. Jika dulu, untuk menjadi ustaz atau ulama membutuhkan waktu untuk diakui masyarakat, sekarang pengakuan itu bisa dilakukan dengan instan. Yang penting populer di medsos, itu sudah cukup.,, Sampun cekap, para Sodara.....!!
Siapa yang menjadi korban dari pasar gelap ini? ya masyarakat Islam sendiri. Orang-orang ini bicara atas nama Islam, padahal dia sama sekali tidak punya otoritas ilmu dan moral. Saya tak perlu menyebut nama sebagai contoh. Sekarang ini, masyarakat Islam suka marah-marah, sebagian merupakan hasil dari pasar gelap itu. Benar kata ahli yang mengatakan, di era disrupsi informasi maka akan lahir era matinya keahlian (death of expertise). Yang menjadi rujukan masyarakat bukan orang-orang yang punya otoritas, tapi orang yang terkenal, terutama di media sosial. Lihat saja survey-survey tentang tokoh-tokoh agama yang mereka ikuti, sebagian adalah orang-orang yang lain di pasar gelap ustaz itu
Masyarakat harus dididik agar mempunyai literasi keualamaan. Kalau mau menuntut ilmu keislaman, belajarlah pada orang-orang yang gurunya jelas, sanad ilmunya juga jelas. Jangan terpesona dengan tampilan luar. Saya senang, sekarang masyarakat sudah mulai kritis dan berani mempertanyakan ustaz yang menebarkan kebencian dimana-mana. Hanya masyarakat seperti ini yang bisa menghentikan pasar gelap itu..
Innama yakh'syalloohumin ibadihill ulamaa...
Wallohu a'lamubimurodihi.....


Kamis, 14 Februari 2019

Berkah Kiyai Doa Terqobul.

Di bawah ini adalah beberapa do'a Jawa yang di ajarkan para ulama sepuh kita...
Allohumma Ighfir Lana walahum war'hamna walahum..
Aamiin..

1. KH. Ahmad Abdul Haq meriwayatkan bahwa KH. Dalhar Watucongol Magelang mempunyai doa agar tekun bekerja dan diberi kelapangan rizki.

“Allahumma ubat-ubet, biso nyandang biso ngliwet. Allahumma ubat-ubet, mugo-mugo pinaringan slamet. Allahumma kitra-kitri, sugih bebek sugih meri. Allahumma kitra-kitri, sugih sapi sugih pari.”

(Allahumma ubat-ubet, punya baju punya nasi. Allahumma ubat-ubet, semoga diberi selamat. Allahumma kitra-kitri, kaya bebek dan anaknya. Allahumma kitra-kitri, kaya sapi kaya padi)

2. KH. Achmad Chalwani Nawawi mempunyai doa yg terkait dgn keamanan.

“Bismillahirrahmānirrahim. Kun Fayakun, rinekso dhening Allah, jinogo dhening moloekat papat, pinayungan dhening poro nabi, Laa ilaha illallah Muhammadur Rasulullah.”

(Bismillahirrahmanirrahim. Kun Fayakun, dikehendaki oleh Allah, dijaga oleh 4 malaikat, dipayungi oleh para Nabi, Laa ilaaha illallah Muhammadur Rasulullah)

3. KH. Ma’ruf Kedunglo mempunyai doa suwuk untuk bekal pasukan Hizbullah dan ditiupkan ke air.

“Allahumma sallimnaa minal bom wal bedil wal bunduq wal martil wa uddada hayatina”

(Ya Allah selamatkan kami dari bom dan senapan dan meriam dan jagalah hidup kami)

4. KH. Bisri Musthofa meriwayatkan doa dari KH. Kholil Kasingan Rembang sebuah doa agar berhasil menyapih bayi.

“Bismillahirrahmanirrahim. Cerma ratu, si bayi laliyo duduh susu, ilingo sego lan banyu, adem asrep, saking Allah Ta’ala, Laa ilaaha illallah, Muhammadur Rasulullah”

(Bismillahirrahmaanirrahiim, Cerma ratu, si bayi lupakan air susu, ingatlah nasi dan air, adem asrep, dengan kehendak Allah Ta’ala, Laa ilaaha illallah, Muhammadur Rasulullah)

5. KH. Bisri Musthofa juga meriwayatkan doa dari KH. Ma’ruf Kedunglo, doa agar orator dan orang berpidato diberi kelancaran.

“Bismillahirrahmanirrahim, sang manik cemar uripmu wus kacekel. Diluk dingkul katungkul dingkul
(diwoco ping 3 tanpo ambekan)
Laa ilaaha illallah, Muhammadur Rasulullah”

(Bismillahirrahmaanirrahim, sang manik cemar hidupmu sudah kupegang.
Diluk dingkul katungkul dingkul (dibaca 3 kali tanpa bernafas) Laa ilaaha illallaah, Muhammadur Rasulullah”.

Dari sini, kita tidak perlu takut atau ragu berdoa. Gunakan bahasa apapun yg kita bisa, yakin kepada Allah SWT akan menerimanya.
Wallohu A'lam...

Semoga bermanfaat , Broo.,,,


Kamis, 31 Januari 2019

Berbeda itu ROHMAH, ora kudu Podo, Broo,,

Beda Itu Biasa
Apa jadinya jika isi dunia ini sama ? Apa jadinya jika wajahku, wajahmu, wajah kita semua sama ? Apa jadinya jika pangkat dan jabatan semua manusia sama ? Apa jadinya jika harta kekayaan kita jumlahnya sama ? Apa jadinya, apa jadinya, apa jadinya jika tidak ada yang berbeda ?
Nah loh !
Misal ya !
Jika yang ada di dunia wajahku dan wajahmu sama. Wajah istriku dan istrimu sama. Wajah serta postur dan karakter anakku dan anakmu sama. Apa tidak mumet kepalaku, kepalamu, kepala istriku, kepala istrimu, kepala anakku, maupun kepala anakmu.
Silahkan bayangkan contoh yang lain.
Ahir-ahir ini ada banyak orang yang belum siap dngan kebhinekaan, belum siap dengan perbedaan, belum dewasa menghadapi keberagaman, dan belum mengerti arti kemajemukan.
Sikap belum siap berbeda terjadi di semua lini kebidupan. Dalam beragama, berpolitik, berprofesi, dan seterusnya sering orang ingin satu warna. Bahkan memaksa untuk sewarna. Karena keinginan berseragam dalam semua lini ditunggangi oleh ego, akibatnya juga menimbulkan sikap yang kacau. Biasanya, yang tidak sewarna, tidak sealiran, dan tidak sepilihan dianggap sebagai musuhnya. Meskipun di antara mereka ada pertalian darah.
Yang cukup unik, keinginan menyeragamkan sesuatu itu juga merasuk dan bertahta di dada orang-orang yang beragama untuk menyamakan amaliah furuiyah ibadahnya. Dan ini terjadi di semua agama. Dalam agama saya, Islam, pun lahir aliran-aliran yang berbeda-beda. Tak jarang perbedaan ini menghadirkan benturan yang tajam. Satu kelompok menuduh kelompok lain sesat. Tuduhan itu dibalas dengan tuduhan lain yang tak kalah sadis. Misal, kafir, musrik, ahli neraka dan seterusnya.

Dulu saya juga sempat berfikir. Masak umat Islam yang satu nabi dan satu kitab suci tidak bisa seragam dalam ibadah ? Rasa penasaran itu terjawab dengan ditemukannya sabda Rasulullah saw yang beragam dalam menanggapi satu kejadian. Dalam al Quran pun para mufassir sering berbeda dalam menafsirkan ayat yang sama. Dalam fikih, madzhab-madzhab para imam pun berbeda-beda. Dari sana saya temukan jawaban bahwa perbedaan itu adalah sunnatullah atau ketetapan Allah ! Kekecewaan akan dirasa demikian menyakitkan bagi yang ingin menyeragamkan segala sesuatu.
Dalam beragama, saya menyikapi perbedaan dengan simple. Selama rukun iman dan rukun islam kita sama, maka kita adalah saudara. Perkara ibadah furuiyah, ya tak apa berbeda !
Dan yang paling penting,,!!! Mari berbeda tanpa mencela. Mari berlainan pilihan namun jangan merendahkan.,,
Wiss,, paham Tohh,,???