Tampilkan postingan dengan label Islam Indonesia. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Islam Indonesia. Tampilkan semua postingan

Kamis, 18 Agustus 2022

Al-Mutakabbir

Al-Mutakabbir adalah salah satu sifat Gusti Alloh,, Makna halusnya adalah agung tapi saya lebih suka mengartikannya sebagai Gusti Alloh yg Maha Sombong, Gusti Alloh yg Maha Gumede,,,

Demi memahami sifat ini, saya seringkali memperhatikan perilaku orang sombong yaitu diri saya sendiri,, Wkwkwkcckk,, Kebetulan saya memiliki sifat ini dan kesimpulannya adalah,,, ;

Pertama, saya suka di puji, di angkat martabat saya dan di anggap besar,, Sebaliknya, saya tak suka di ejek, di rendahkan dan di remehkan,, Karena sombong, saya merasa lebih segalanya dari orang lain,, Kedua, saya ini sombong tapi tak suka melihat orang lain sombong,, Ketiga, karena watak ini, seringkali saya melakukan hal yg tak memiliki tujuan kecuali karena kesombongan,,

Lalu, bagaimana cara memahami "kesombongan" Gusti Alloh??? Yaa kurang lebih hampir sama lah,, 

Gusti Alloh suka di puji,, Itu kenapa, sebagian besar doaDoa yg di buat oleh waliWali,, ⅔ adalah pujian, sisanya baru permintaan,,

Gusti Alloh mutlak kesombongannya, cuma Dia yg boleh memiliki sifat sombong, makhlukMakhlukNya jangan,,!! Sekali keputusan ini di langgar, siapSiap tak bisa mencium bau surga, apalagi kelon dengan bidadari,, 🤭

Gusti Alloh tak suka di remehkan,, entah rahmatNya, rezeki dariNya, pengampunanNya ato murkaNya,, jika engkau menganggap rahmatNya tak menjangkau seseorang karena sebuah perilaku, maka berhatiHatilah karena engkau sudah mengecilkan rahmatNya,, jika engkau menganggap seseorang ahli neraka (padahal engkau tak punya kapasitas untuk memyebutnya ahli neraka) maka BerhatiHatilah,, jika engkau menganggap dosamu tak terampuni, BerhatiHati lah juga,, Bukan karena dosamu tapi karena merendahkan samudera MaafNya,, 

Jika engkau menganggap dirimu baik, sementara engkau tau yg berhak memvonis baik buruknya dirimu adalah Gusti Alloh, maka BerhatiHatilah,, Jika engkau meremehkan perintah ato laranganNya (besar atau kecilnya), BerhatiHatilah,, Mungkin saja perasaan meremehkan lebih besar dosanya ketimbang tidak melakukan perintah ato melanggar larangan,, 

Bahkan saya sampai pada kesimpulan, tidak boleh menganggap enteng sebuah amal (se enteng apapun amal itu).. Misal mbatin, "ah kalo cuma itu, saya mudah melakukan". Itu, ngece kepada Gusti Alloh namanya,,

Jadi berhatiHatilah dalam melakukan segala sesuatunya, biasakan selalu ber-husnudzon kepada Gusti Alloh,,, 

Selanjutnya terserah Anda mawon,, memahami dan mengartikan sifat Al-Mutakabbir Gusti Alloh ini,,

Wallohul Muwaffiq Ila Aqwamithoriq Wal Afwu Mingkum Wassalamu'alaikum Warohmatullohi Wabarokatuh,,,
Allohumma Sholli Ala Sayyidina Muhammad...



Sabtu, 23 Februari 2019

Pasar Gelap UstazD

Saya berkali-kali menyampaikan, hati-hati mencari ustaz. Jangan sembarangan mengundang orang untuk mengisi pengajian, memanggil dia ustaz, apalagi menyebutnya sebagai ulama.,,
Saya perlu semakin serius mengingatkan hal ini. Karena semakin banyak orang-orang yang hanya bermodal bisa pidato, berbaju gamis, mengumpat sana-sini diundang kemana-mana, dipanggil ustaz. Hafal satu dua ayat al-Quran dan hadis cukup menjadi modal.
Pasar gelap ustaz ini biasanya dihuni dua kelompok besar. Pertama, para muallaf. Beberapa muallaf, meskipun tidak punya ilmu keislaman yang cukup, tiba-tiba dia menjadi ustaz karena modal bisa pidato. Yang paling banyak diceramahkan biasanya menjelek-jelekkan keyakinan lamanya. Dia ingin menunjukkan sekarang sudah mendapat "hidayah". Tak lupa, biasanya juga menebar ketakutan, bahwa agama lamanya itu menjadi ancaman terhadap Islam. Kalau melihat orang seperti ini, saya sering jengkel sendiri, membayangkan kalau ada orang keluar dari Islam kemudian menjelek-jelekkan Islam dalam komunitas agamanya yang baru. Orang-orang seperti ini yang biasanya menaikkan ketegangan muslim dan non muslim.,,
Kedua, orang-orang yang dulu jauh dari Islam, suka maksiat dan sebagainya, kemudian berubah menjadi lebih religius, mengubah penampilan dan sebagainya. Orang-orang seperti ini biasanya menyebut diri sebagai orang yang sudah "hijrah". Modal kegelapan masa lalu dieksploitasi, seolah sekarang sudah benar-benar hidup dalam terang. Dengan modal bisa pidato, punya tim media sosial untuk menaikkan popularitasnya, mereka tiba-tiba dipanggil ustaz dan dijadikan rujukan dalam beragama.,,
Duakelompok ini, intinya sama. Mereka tidak punya otoritas keagamaan, tapi dimanjakan oleh situasi. Mareka memanfaatkan media sosial untuk marketing. Yang saya heran, orang-orang seperti ini banyak yang tidak tahu diri soal kapasitas keislamannya.,, Na'udZubillahi min dzalika...
pasar gelap ustaz ini bisa terjadi karena dua hal. Pertama, Islam memang longgar dan tidak ada lembaga yang melakukan "standarisasi" keulamaan seseorang. Pasar ustaz dalam Islam sangat terbuka. Semua sangat tergantung pada "pasar". Jika Anda populer, ceramahnya disukai orang, maka Anda bisa masuk dalam pasar keulamaan ini, Bro..
Kedua sekarang banyak sarana yang bisa digunakan untuk branding. Jika dulu, untuk menjadi ustaz atau ulama membutuhkan waktu untuk diakui masyarakat, sekarang pengakuan itu bisa dilakukan dengan instan. Yang penting populer di medsos, itu sudah cukup.,, Sampun cekap, para Sodara.....!!
Siapa yang menjadi korban dari pasar gelap ini? ya masyarakat Islam sendiri. Orang-orang ini bicara atas nama Islam, padahal dia sama sekali tidak punya otoritas ilmu dan moral. Saya tak perlu menyebut nama sebagai contoh. Sekarang ini, masyarakat Islam suka marah-marah, sebagian merupakan hasil dari pasar gelap itu. Benar kata ahli yang mengatakan, di era disrupsi informasi maka akan lahir era matinya keahlian (death of expertise). Yang menjadi rujukan masyarakat bukan orang-orang yang punya otoritas, tapi orang yang terkenal, terutama di media sosial. Lihat saja survey-survey tentang tokoh-tokoh agama yang mereka ikuti, sebagian adalah orang-orang yang lain di pasar gelap ustaz itu
Masyarakat harus dididik agar mempunyai literasi keualamaan. Kalau mau menuntut ilmu keislaman, belajarlah pada orang-orang yang gurunya jelas, sanad ilmunya juga jelas. Jangan terpesona dengan tampilan luar. Saya senang, sekarang masyarakat sudah mulai kritis dan berani mempertanyakan ustaz yang menebarkan kebencian dimana-mana. Hanya masyarakat seperti ini yang bisa menghentikan pasar gelap itu..
Innama yakh'syalloohumin ibadihill ulamaa...
Wallohu a'lamubimurodihi.....


Kamis, 31 Januari 2019

Berbeda itu ROHMAH, ora kudu Podo, Broo,,

Beda Itu Biasa
Apa jadinya jika isi dunia ini sama ? Apa jadinya jika wajahku, wajahmu, wajah kita semua sama ? Apa jadinya jika pangkat dan jabatan semua manusia sama ? Apa jadinya jika harta kekayaan kita jumlahnya sama ? Apa jadinya, apa jadinya, apa jadinya jika tidak ada yang berbeda ?
Nah loh !
Misal ya !
Jika yang ada di dunia wajahku dan wajahmu sama. Wajah istriku dan istrimu sama. Wajah serta postur dan karakter anakku dan anakmu sama. Apa tidak mumet kepalaku, kepalamu, kepala istriku, kepala istrimu, kepala anakku, maupun kepala anakmu.
Silahkan bayangkan contoh yang lain.
Ahir-ahir ini ada banyak orang yang belum siap dngan kebhinekaan, belum siap dengan perbedaan, belum dewasa menghadapi keberagaman, dan belum mengerti arti kemajemukan.
Sikap belum siap berbeda terjadi di semua lini kebidupan. Dalam beragama, berpolitik, berprofesi, dan seterusnya sering orang ingin satu warna. Bahkan memaksa untuk sewarna. Karena keinginan berseragam dalam semua lini ditunggangi oleh ego, akibatnya juga menimbulkan sikap yang kacau. Biasanya, yang tidak sewarna, tidak sealiran, dan tidak sepilihan dianggap sebagai musuhnya. Meskipun di antara mereka ada pertalian darah.
Yang cukup unik, keinginan menyeragamkan sesuatu itu juga merasuk dan bertahta di dada orang-orang yang beragama untuk menyamakan amaliah furuiyah ibadahnya. Dan ini terjadi di semua agama. Dalam agama saya, Islam, pun lahir aliran-aliran yang berbeda-beda. Tak jarang perbedaan ini menghadirkan benturan yang tajam. Satu kelompok menuduh kelompok lain sesat. Tuduhan itu dibalas dengan tuduhan lain yang tak kalah sadis. Misal, kafir, musrik, ahli neraka dan seterusnya.

Dulu saya juga sempat berfikir. Masak umat Islam yang satu nabi dan satu kitab suci tidak bisa seragam dalam ibadah ? Rasa penasaran itu terjawab dengan ditemukannya sabda Rasulullah saw yang beragam dalam menanggapi satu kejadian. Dalam al Quran pun para mufassir sering berbeda dalam menafsirkan ayat yang sama. Dalam fikih, madzhab-madzhab para imam pun berbeda-beda. Dari sana saya temukan jawaban bahwa perbedaan itu adalah sunnatullah atau ketetapan Allah ! Kekecewaan akan dirasa demikian menyakitkan bagi yang ingin menyeragamkan segala sesuatu.
Dalam beragama, saya menyikapi perbedaan dengan simple. Selama rukun iman dan rukun islam kita sama, maka kita adalah saudara. Perkara ibadah furuiyah, ya tak apa berbeda !
Dan yang paling penting,,!!! Mari berbeda tanpa mencela. Mari berlainan pilihan namun jangan merendahkan.,,
Wiss,, paham Tohh,,???



Selasa, 09 Oktober 2018

ULAMA (ULAMAA)

ULAMA
Kata ‘ulama adalah bentuk jamak dari kata ‘alim. Kata ini berasal dari akar kata ‘alima—ya’lamu—‘ilman. Di dalam berbagai bentuknya, kata ini disebut 863 kali di dalam Al-Qur’an. Masing-masing dalam bentuk fi’il madhi 69 kali; fi’il mudhari’ 338 kali; dan fi’il amr 27 kali. Selebihnya dalam bentuk ism dalam berbagai variannya sebanyak 429 kali. Sedemikian pentingnya persoalan ilmu, sehingga kata ilmu merupakan kata kedua paling banyak yang diulang-ulang penggunaannya dalam Al-Qur’an. Kata pertama adalah “Allah” dan kata kedua adalah “ilmu”.

Lalu apakah arti ilmu? Pakar mufrodat, kosakata Al-Qur’an, Ar-Raghib Al-Ashfahani dalam karya cemerlangnya, Mu’jam Mufrodat Al-Fazh Al-Qur’an, menjelaskan bahwa ilmu adalah mengetahui hakikat sesuatu (idrokusy sya’i bi haqiiqotih). Pengetahuan dalam konteks ini, ada dua macam. Pertama, pengetahuan tentang sesuatu. Kedua, penilaian terhadap sesuatu setelah melalui proses pengujian mengenai kebenaran atau ketidakbenarannya.
Pada segi lain, ilmu juga terbagi dua yaitu ilmu teoretis (nazhoriyyun) dan ilmu praktis (‘amaliyyun). Ilmu teoretis adalah ilmu yang apabila telah kita ketahui, maka sempurnalah pengetahuan kita (maa idza ‘ulima faqod kamala). Contohnya ilmu tentang fenomena alam. Sedangkan ilmu praktis adalah ilmu yang tidak akan sempurna kecuali dengan mempraktekannya atau mengamalkannya (maa la yatimmu illa bi anya’mala). Contohnya adalah ilmu tentang ibadah.

Dengan demikian, secara leksikal ‘aliim yang merupakan bentuk ism mubalaghah dari ‘aalim, berarti orang yang memiliki pengetahuan tentang zat (hakikat) sesuatu, baik yang bersifat teoretis maupun yang bersifat praktis, atau orang yang memiliki kemampuan untuk memberikan penilaian terhadap berbagai masalah dengan sebaik-baiknya.
Adapun kata ‘ulama hanya disebut dua kali di dalam Al-Qur’an, yakni pada QS. Fathir (35): 28; dan QS. Asy-Syu’ara (26): 197. Di dalam surat Fathir 35: 28, ‘ulama disebut dalam konteks ajakan Al-Qur’an untuk memerhatikan turunnya hujan dari langit, keanekaragaman buah-buahan, gunung, binatang, dan manusia, yang kemudian diakhiri dengan pernyataan, yang artinya: “Sesungguhnya yang takut kepada Allah di antara hamba-hamba-Nya hanyalah ulama”.

Karena itu, konteks makna ayat ke-27 dalam surat Fathir tidak boleh dipisahkan dengan ayat ke-28; sebab kedua ayat tersebut berhubungan satu sama lain. Mari kita lihat arti lengkap kedua ayat tersebut:
“Tidakkah engkau perhatikan bahwa Allah menurunkan dari langit air lalu Kami mengeluarkan dengannya buah-buahan yang beraneka macam warnanya. Dan di antara gunung-gunung ada garis-garis putih dan merah yang beraneka macam warnanya dan ada (pula) yang pekat hitam”.
“Demikian pula manusia, binatang-binatang melata dan binatang-binatang ternak, bermacam-macam warnanya seperti itu (pula). Sesungguhnya yang takut kepada Allah di antara hamba-hamba-Nya, hanyalah ulama. Sesungguhnya Allah Maha Perkasa lagi Maha Pengampun”.
Dari rangkaian dua ayat tersebut, terlihat jelas bahwa dari kalangan umat manusia yang benar-benar sanggup merasakan keagungan Ilahi dan kemudian tumbuh dalam diri mereka sikap takwa dan takut (dalam arti positif) kepada-Nya ialah mereka yang memahami secara mendalam eksistensi lingkungannya, sejak dari gejala alam seperti hujan, kemudian gejala kehidupan flora, fauna dan minerologi (gunung-gunung yang berwarna-warni karena kandungan mineralnya) dan akhirnya, gejala kemanusiaan, yang kesemuanya itu sangat beraneka ragam.

Dalam tafsir Fi Zhilalil Qur’an, Sayyid Quthb menamakan fenomena alam semesta yang diuraikan dua ayat tersebut dengan kitab alam semesta yang indah yang disingkap rahasia maknanya oleh para ulama. Para ulama adalah orang-orang yang merenungi kitab semesta yang menakjubkan ini. Karenanya, mereka makrifat terhadap Allah dengan makrifat yang sebenarnya. Mereka mengenal Allah melalui tanda-tanda ciptaan-Nya. Mengenal-Nya melalui tanda-tanda kekuasaan-Nya. Dan, merasakan hakikat keagungan-Nya dengan melihat hakikat ciptaan-Nya.

Selain itu, karenanya pula mereka takut kepada Allah dengan sebenarnya, bertakwa kepada-Nya dengan sesungguhnya, dan beribadah kepada-Nya dengan setulusnya. Bukan dengan perasaan tidak jelas yang didapati oleh hati di depan keagungan semesta. Namun, dengan makrifat yang detail dan ilmu yang langsung. Para ulama ini, mempunyai ilmu yang menyampaikan. Yaitu, ilmu yang dirasakan oleh hatinya, yang menggerakkannya, dan dengannya ia melihat sentuhan “tangan” Allah yang menciptakan warna-warni, celupan, bentuk, dan susunannya dalam alam semesta yang indah itu.
Dengan kata lain, rangkaian ayat tersebut mengisyaratkan bahwa ulama adalah orang-orang yang memiliki pengetahuan tentang ayat-ayat Allah yang bersifat kauniyyah (kosmos) dan ayat-ayat yang bersifat insaniyyah (kosmis). Paling tidak, ulama adalah para ilmuwan yang memiliki pengetahuan tentang natural sciences sekaligus social sciences, yakni menguasai sebagian pengetahuan saintifik sekaligus sebagian pengetahuan yang berhubungan dengan kemanusiaan.

Akan tetapi, sebagaimana dinyatakan dalam ayat di atas, pengetahuan ulama tentang fenomena alam dan kehidupan manusia tersebut haruslah menghasilkan khosyyah. Kata khosyyah menurut Ar-Raghib Al-Ashfahani,
خَوْفٌ يَشُوْبُهُ تَعْظِيْمٌ وَاَكْثَرُ ماَ يَكُوْنُ ذَلِكَ عَنْ عِلْمٍ بِمَا يُخْشَى مِنْهُ, ولذلك خُصَّ العُلَمَاءُ بِهَا
Yakni rasa takut yang disertai pengagungan dan pengagungan tersebut kebanyakan muncul setelah mengetahui apa yang ditakuti. Oleh karena itu, rasa takut yang penuh pengagungan itu hanya dimiliki oleh para ulama.

Dalam konteks ini pula, pernyataan Al-Qur’an bahwa yang memiliki sifat khosyyah tersebut hanya ulama; mengandung makna penegasan sekaligus pembatasan. Artinya, hanya ulama-lah yang memiliki sifat khosyyah dengan ilmunya dan orang yang tidak memiliki sifat khosyyah tidak layak disebut ulama, meskipun memiliki ilmu yang luas.
Kemudian, dalam surat Asy-Syu’ara ayat 197, kata ulama disebut dalam konteks pembicaraan tentang kebenaran kandungan Al-Qur’an yang telah diakui (diketahui) oleh ulama Bani Israil. Ayat ini mengisyaratkan bahwa ulama juga adalah orang-orang yang memiliki pengetahuan tentang ayat-ayat Qur’aniyyah.

Dari berbagai makna di atas, dapat ditarik suatu pengertian bahwa ulama dalam perspektif Al-Qur’an adalah orang-orang yang memiliki pengetahuan tentang ayat-ayat Allah, baik yang bersifat kauniyyah dan insaniyyah, maupun yang bersifat qouliyyah-qur’aniyyah yang dapat mengantarkan mereka kepada sikap tunduk dan takut yang disertai pengagungan kepada Allah. Inilah pengertian secara ideal dan global tentang kata ulama.
Dari pengertian ulama secara global tersebut, apakah penjelasan tentang ulama sudah mencukupi dan memadai? Apakah makna tersebut sudah lengkap dan selesai? Ternyata belum. Di sini, pengertian ulama, harus kita hubungkan lagi dengan sebuah hadits Nabi Saw yang sangat populer, yakni: ‘al-ulama warotsatul anbiya’; “Para ulama adalah ahli waris para Nabi”.

Secara garis besar, ada empat tugas yang harus dilaksanakan oleh ulama dalam kedudukan mereka sebagai ahli waris pada Nabi. Pertama, menyampaikan ajaran kitab suci (tabligh) karena Rasul diperintahkan:
“Wahai Rasul, sampaikanlah apa yang diturunkan kepadamu dari Tuhanmu. Dan jika tidak engkau lakukan, maka engkau tidak menyampaikan risalah-Nya. Allah memeliharamu dari gangguan manusia” (QS. Al-Maidah 5: 67).
Ini menuntut para ahli waris Nabi untuk menyampaikan ajarannya secara baik dan bijaksana, tidak merasa takut dan rikuh, tetapi selalu siap menanggung risiko.

Kedua, menjelaskan tentang kandungan kitab suci. Ini sejalan dengan firman-Nya: “Dan Kami turunkan kepadamu, Al-Qur’an agar kamu jelaskan kepada manusia” (QS. An-Nahl 16: 44).
Ini menuntut ulama untuk terus-menerus mengajarkan kandungan kitab suci, sekaligus terus-menerus mempelajarinya (baca QS. Fathir 35: 29), atau, dalam istilah Al-Qur’an menjadi Rabbaniyin (baca QS. Ali-Imran 3: 79). Ulama atau ilmuwan dituntut untuk memberi nilai rabbani pada ilmu mereka. Ini dimulai sejak motivasi menuntut ilmu sampai dengan penerapan ilmunya dalam kehidupan nyata.

Perlu juga ditegaskan bahwa dalam menyampaikan ajaran kitab suci, ayat ketiga dari wahyu kedua yang diterima Nabi Saw (QS. Al-Muddatstsir 74: 6) menggarisbawahi la tamnun tastaktsir (Janganlah kamu memberi dengan maksud memperoleh imbalan yang lebih banyak). Motivasi untuk memperoleh imbalan yang berlebih, dapat mengantarkan ulama atau ilmuwan tidak memiliki niat suci, baik dalam penelitian dan penerapan ilmunya, maupun dalam pengabdiannya. Dengan kata lain, ulama harus ikhlas dalam pengabdiannya.
Dari upaya mengajar dan mempelajari kitab suci, lahir fungsi ketiga, yaitu memberi keputusan dan solusi bagi problem dan perselisihan masyarakat. Hal ini sejalan dengan firman-Nya:
“Dan Dia (Allah) menurunkan kepada mereka (para Nabi) kitab suci dengan benar agar mereka memutuskan antara manusia apa yang mereka perselisihkan” (QS. Al-Baqarah 2: 213).

Solusi yang diberikan tidak boleh mengawang-awang di angkasa, dalam arti hanya indah terdengar, tetapi harus membumi, dalam arti dapat dipahami dan diterapkan. Dengan kata lain, dalam menjalani fungsi yang ketiga ini, ulama harus memiliki hikmah. Hikmah, tulis Al-Ashfahani:
اِصَابَةُ الْحَقِّ بِا لْعِلْمِ وَالْعَقْلِ, فَا لْحِكْمَةُ مِنَ اللَّهِ مَعْرِفَةُ الاَ شْيَاءِ
وَاِ يْجَادُهَا عَلَى غَايَةِ الآِحْكَامِ
Jadi hikmah adalah menggapai kebenaran dengan menggunakan ilmu dan akal; sedangkan hikmah dari Allah adalah kemampuan dalam memahami hakikat sesuatu dan mampu mengaplikasikannya dengan arif bijaksana. Dengan kata lain, seorang ulama bukan hanya mampu memahami hakikat kebajikan dan kebenaran, tapi juga mampu mengaplikasikannya dengan benar dan tepat secara kontekstual.

Dari sini, lahir fungsi keempat, yaitu memberi contoh sosialisasi dan keteladanan. Itu sebabnya Nabi Saw dijadikan Allah sebagai teladan (lihat QS. Al-Ahzab 33: 21), dan sebagaimana keterangan istri beliau, Aisyah r.a: “Sikap dan tingkah laku Rasul adalah Al-Qur’an”. Dalam konteks ini, para ahli waris Nabi dituntut bukan sekedar menampilkan yang baik, tetapi yang terbaik.

Sampai di sini, kita melihat betapa dalam, luas, dan luhurnya arti dari kata ‘ulama, tapi sekaligus betapa mulia dan beratnya tanggung jawab yang dipikulnya. Seorang ulama bukan hanya orang yang cerdas, tapi juga tulus ikhlas dalam menyampaikan ilmunya. Seorang ulama bukan hanya orang yang benar-benar menguasai ilmunya secara utuh, tapi juga mampu memberikan solusi-solusi yang arif bijaksana dan kontekstual bagi problematika umat.

Seorang ulama bukan hanya orang yang kreatif menyampaikan ilmu pengetahuan yang dimilikinya, tapi juga memiliki rasa takut yang disertai pengagungan kepada Allah. Seorang ulama bukan cuma orang yang fasih membicarakan beragam wacana ilmu yang dikuasainya secara teoretis, tapi juga sanggup mengamalkan ilmunya secara praktis sekaligus menjadi teladan indah dari semua yang disampaikannya.
Dengan mengetahui makna ulama dan konsekuensinya tersebut, maka tidak mengherankan jika tidak sedikit kaum intelektual dan cendekiawan muslim kita, bahkan sebagian kyai-kyai kita yang sangat alim merasa enggan disebut sebagai ulama. Kalau mereka sudah sangat alim dan benar-benar menguasai ilmu yang dimilikinyya secara holistik, tapi boleh jadi bersama ilmu tersebut mereka merasa belum benar-benar memiliki khossyah yang utuh kepada Allah. Kalau mereka sudah memiliki rasa khosyyah kepada Allah dengan ilmu yang dimilikinya, boleh jadi mereka merasa belum benar-benar tulus ikhlas dalam menyampaikan ilmunya.

Bila mereka sudah ikhlas dalam menyampaikan ilmu yang dimilikinya, bisa jadi mereka belum mampu menawarkan solusi-solusi terbaik dan arif bijaksana untuk mengatasi berbagai persoalan yang dihadapi umatnya. Dan apabila mereka telah sanggup memberikan solusi terbaik dan arif bijaksana, bisa jadi mereka belum mampu menjadi teladan indah dari semua bentuk pengetahuan yang telah disampaikannya selama ini. Karena itulah, mereka masih enggan disebut sebagai ulama, walaupun sebenarnya dalam tataran tertentu mereka memang layak menyandang sebutan sebagai ulama.

Hari ini, kita menyaksikan sebagian orang, bahkan figur yang cukup terdidik dengan begitu mudahnya menyematkan gelar ulama kepada orang yang sesungguhnya tidak layak sedikit pun menyandang gelar ulama. Kita semua tahu, ada interes politik sesaat di situ. Meskipun hal itu tidak pantas dilakukan, tapi itulah realitasnya kalau orang sudah terlibat dalam lingkaran politik praktis. Hal-hal yang naif sekalipun akan mereka lakukan demi meraih keuntungan pragmatis yang mereka dambakan. Dan sejarah kehidupan politik umat manusia, sejak era klasik hingga hari ini, banyak memberi pelajaran amat berharga kepada kita: Siapapun saja yang sudah terlibat dalam lingkaran partisan politik praktis, maka demi setampuk jabatan dan tahta kekuasaan, kejernihan hati nurani mereka akan hilang dan nalar sehat mereka menjadi tumpul.

Wallahu a’lam bish showab.


Rabu, 01 Agustus 2018

Islam (di) Nusantara

ISLAM (DI) NUSANTARA

Islamnya shalat, tetap,,
Nusantaranya ditambahi puji-pujian sebelum shalat, sambil nunggu yang masih pulang dari sawah. Biar pada denger dikasih tau pake bedug dan kentongan!

Islamnya nyuruh baca kalimah thayyibah,
Nusantaranya ada tahlilan, dzikir sehabis shalat,, kalo nggak bareng-bareng suka lupa soalnya.

Islamnya haji ke Mekah,
Nusantaranya ada manasik dulu di alun-alun pakai triplek, miniatur ka'bah. Maklum, jauh, nggak pernah liat. Tahunya sini Borobudur pas study tour!

Islamnya nyuruh bersedekah,
Nusantaranya ada bagi-bagi berkat (full gizi).

Islamnya nyuruh orang kenal nabi,
Nusantaranya ada peringatan maulid nabi, sholawatan dan pembacaan al-berzanji (biografi nabi).
Maklum, kenalnya Gatotkaca sama Wirosableng pendekar 212.

Islamnya nyuruh orang saling memaafkan,
Nusantaranya ada tradisi mudik, sungkem dan halal bihalal pasca lebaran.

Islamnya nyuruh nutup aurat,
Nusantaranya pake sarung dan peci. Pake sorban, blangkon, atau jeans juga nggak papa, asal jangan ketat-ketat. Kalo ke sawah pake jubah ribet soalnya.

Islamnya nyuruh berkurban,
Nusantaranya pakai kambing atau sapi (tak ada unta coy). Kalau ngambil di kebun binatang ntar ditangkap Pak Tito Karnavian.

Islamnya nyuruh "tafaqquh fid-dien,"
Nusantaranya ada TPQ, pesantren, UIN/STAI/STAIN dll.

Islamnya nyuruh selalu inget Allah,
Nusantaranya ada majelis dzikir, istighasah, pengajian akbar (sampe nutup jalan segala).

Islamnya nyuruh baca dan dengerin al-Quran (meski cuma denger, pahalanya sama, hlo),
Nusantara-nya ada semaan al-Quran, atau minimal ya yasinan (hatinya Quran). Simple toh,, 

Islamnya nyuruh bikin "ummatan wasathan" (ummat yang moderat),
Nusantaranya ada ormas Islam. Meski sekarang ada ormas yang serem... 

Islamnya nyuruh mengenang nenek moyang agar tahu asal-usul dan "tempat kembali" (bahkan sampai Nabi di Mi'rajkan agar tahu leluhur dan kelak juga kita mati) dan napak tilas sejarah Nabi Adam as dan Nabi Ibrahim as dalam haji,
Nusantaranya - selain haji tadi - ada tradisi ziarah walisongo, makam leluhur dan haul.

Islamnya nyuruh menghormati dan memuliakan tamu,
Nusantaranya - khususnya di beberapa daerah tertentu - selalu disilakan makan (Jawa: disuguh). Gratis,bro... 

Islamnya nyuruh laki-laki disunat (dikhitan) "itu"-nya (sakit banget tau, nggak lagi-lagi),
Nusantaranya si anak ditumpakin ke kuda, diarak, karnaval rame-rame, namanya khitanan massal. Selain tasyakuran dan potensi wisata budaya (soalnya banyak yang nonton dan jualan) , juga biar yang dikhitan seneng dan lupa sakitnya!

Islamnya nyuruh mengormati orang tua,
Nusantaranya - antara lain - berbahasa kromo dan mencium tangan orang tua, dan ngopeni. (Nggak dititipin di panti jompo kayak di AS).

Islamnya melarang memanggil Nabi dengan namanya saja,
Nusantaranya ada "Kanjeng" Nabi Muhammad, atau Sayyidina. Jangankan pada Nabi, (maaf, tidak bermaksud merendahkan; profesi ini mulia) sama tukang parkir aja kita manggil "Pak" atau " Mas".

Islamnya nyuruh jomblo untuk nikah dengan segala syarat dan rukunnya, plus resepsi,
Nusantaranya ditambahin baju, adat dan tradisi khas pernikahan, pesta nanggap wayang, gambus atau orkes dangdut ala Bang Haji Rhoma Irama... 

Islamnya nyuruh " Iqra' " , membaca dan belajar,
Nusantaranya ada tradisi penulisan "kitab pegon" (berbahasa jawa, sunda, melayu, dll), juga syair, tembang, lagu, cerita wayang, film dll, untuk mengajarkan agama pada masyarakat... 

Islamnya nyuruh diskusiin kalau ada problem ummat (wasyaawirhum fil amri),
Di sini ada "musyawarah", "bahtsul masail", sidang MPR, dll.

Islamnya nyuruh kita bikin negara yang aman, "baladil amin",
Nusantaranya ada Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI).

Islamnya ngajarin bikin kesepakatan dalam membikin negara: "Piagam Madinah", yang mengayomi semua agama dan suku.
Nusantaranya ada "Pancasila" yang isinya senafas dengan islam, dan di terima di Indonesia yang bhineka tunggal Ika..


Merdeka
Merdekaaaa
MERRRDEKAAA


Kamis, 12 Juli 2018

Islam ya Islam ( Nusantara)


Dhawuh Kyai-ku ;
"yang bergamis bersorban WAJAH-nya SENYUM itu itba' Kanjeng Rosul, yang bergamis bersorban WAJAH-nya SANGAR itu itba' Abu Jahal... "

tak tambahi ;
"yang sarungan berpeci WAJAH-nya SENYUM itu orang Nusantara yang beragama Islam, yang sarungan berpeci WAJAH-nya SANGAR itu orang Islam yang KEBETULAN tinggal di Nusantara"

Jadi bukan perkara bagaimana CARA-nya, tapi bagaimana isi hatinya.
Orang Nusantara yang beragama Islam, tak akan rela Nusantara ini diacak-acak, diadu domba, diganti kelir, apalagi mau di-RUBAH, sementara orang Islam yang tinggal di Nusantara bisa jadi TAK AKAN PEDULI, sebab tak punya rasa memiliki.,,, 

Jadi kesimpulannya, ISLAM NUSANTARA bukan sesuatu yg baru, tapi cara orang NUSANTARA beragama ISLAM, yang menanamkan 6 Rukun Iman dalam jiwanya, menjalankan 5 Rukun Islam dalam kesehariannya, juga CINTA TANAH AIR, CINTA SESAMA MANUSIA, CINTA KERUKUNAN antar UMAT BERAGAMA, CINTA PERSATUAN, SUDI GOTONG ROYONG, TAHLILAN, MAULUDAN, HORMAT KEPADA LELUHUR, HORMAT KEPADA YG TUA, SAYANG KEPADA YG MUDA, ANTI TAKFIRI, ANTI KEKERASAN, MENGHORMATI TRADISI dan, MEMAHAMI KEARIFAN LOKAL... 

Ngono lhooo,,, 

Paham ya ? .. jangan mengambil kesimpulan kalau belum paham ... aku nyusun kalimatnya udah hati-hati, supaya jangan ada yg sakit hati, jadi jangan tanya-tanya lagi.
Mari kita renungkan dengan NALAR WARAS, mumpung malam Jum'at, bro......