Tampilkan postingan dengan label Islami. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Islami. Tampilkan semua postingan

Kamis, 18 Agustus 2022

Al-Mutakabbir

Al-Mutakabbir adalah salah satu sifat Gusti Alloh,, Makna halusnya adalah agung tapi saya lebih suka mengartikannya sebagai Gusti Alloh yg Maha Sombong, Gusti Alloh yg Maha Gumede,,,

Demi memahami sifat ini, saya seringkali memperhatikan perilaku orang sombong yaitu diri saya sendiri,, Wkwkwkcckk,, Kebetulan saya memiliki sifat ini dan kesimpulannya adalah,,, ;

Pertama, saya suka di puji, di angkat martabat saya dan di anggap besar,, Sebaliknya, saya tak suka di ejek, di rendahkan dan di remehkan,, Karena sombong, saya merasa lebih segalanya dari orang lain,, Kedua, saya ini sombong tapi tak suka melihat orang lain sombong,, Ketiga, karena watak ini, seringkali saya melakukan hal yg tak memiliki tujuan kecuali karena kesombongan,,

Lalu, bagaimana cara memahami "kesombongan" Gusti Alloh??? Yaa kurang lebih hampir sama lah,, 

Gusti Alloh suka di puji,, Itu kenapa, sebagian besar doaDoa yg di buat oleh waliWali,, ⅔ adalah pujian, sisanya baru permintaan,,

Gusti Alloh mutlak kesombongannya, cuma Dia yg boleh memiliki sifat sombong, makhlukMakhlukNya jangan,,!! Sekali keputusan ini di langgar, siapSiap tak bisa mencium bau surga, apalagi kelon dengan bidadari,, 🤭

Gusti Alloh tak suka di remehkan,, entah rahmatNya, rezeki dariNya, pengampunanNya ato murkaNya,, jika engkau menganggap rahmatNya tak menjangkau seseorang karena sebuah perilaku, maka berhatiHatilah karena engkau sudah mengecilkan rahmatNya,, jika engkau menganggap seseorang ahli neraka (padahal engkau tak punya kapasitas untuk memyebutnya ahli neraka) maka BerhatiHatilah,, jika engkau menganggap dosamu tak terampuni, BerhatiHati lah juga,, Bukan karena dosamu tapi karena merendahkan samudera MaafNya,, 

Jika engkau menganggap dirimu baik, sementara engkau tau yg berhak memvonis baik buruknya dirimu adalah Gusti Alloh, maka BerhatiHatilah,, Jika engkau meremehkan perintah ato laranganNya (besar atau kecilnya), BerhatiHatilah,, Mungkin saja perasaan meremehkan lebih besar dosanya ketimbang tidak melakukan perintah ato melanggar larangan,, 

Bahkan saya sampai pada kesimpulan, tidak boleh menganggap enteng sebuah amal (se enteng apapun amal itu).. Misal mbatin, "ah kalo cuma itu, saya mudah melakukan". Itu, ngece kepada Gusti Alloh namanya,,

Jadi berhatiHatilah dalam melakukan segala sesuatunya, biasakan selalu ber-husnudzon kepada Gusti Alloh,,, 

Selanjutnya terserah Anda mawon,, memahami dan mengartikan sifat Al-Mutakabbir Gusti Alloh ini,,

Wallohul Muwaffiq Ila Aqwamithoriq Wal Afwu Mingkum Wassalamu'alaikum Warohmatullohi Wabarokatuh,,,
Allohumma Sholli Ala Sayyidina Muhammad...



Selasa, 19 November 2019

Penyebab Hati Gelisah, Meski Rajin Ngibadah.

Di samping seorang sufi, Abu Yazid Al Busthomi juga adalah pengajar tasawuf, di antara jamaahnya, ada seorang santri yang juga memiliki murid yang banyak,,

Santri itu juga menjadi kyai bagi jamaahnya sendiri karena telah memiliki murid, santri ini selalu memakai pakaian yang menunjukkan kesholihannya, seperti baju putih, serban, dan wewangian tertentu,,

Suatu saat, muridnya itu mengadu kepada Abu Yazid,,

",,Tuan Guru, saya sudah beribadah tiga puluh tahun lamanya, saya sholat setiap malam dan puasa setiap hari, tapi anehnya, saya belum mengalami pengalaman ruhani yang Tuan Guru ceritakan, saya tak pernah saksikan apapun yang Tuan Guru gambarkan,,"

Abu Yazid menjawab,,

",,Sekiranya kau beribadah selama tiga ratus tahun pun, kau takkan mencapai satu butir pun debu mukasyafah dalam hidupmu,,"

Murid itu heran,,

",,Mengapa demikian, ya Tuan Guru?,,"

",,Karena kau tertutup oleh dirimu sendiri,,"

jawab Abu Yazid,,

",,Bisakah kau obati aku agar hijab itu tersingkap?,,"

pinta sang murid,,

",,Bisa,, tapi kau takkan mampu melakukannya,,"

ucap Abu Yazid,,

",,Tentu saja akan aku lakukan,,"

sanggah murid itu,,

",,Baiklah kalau begitu,,"

kata Abu Yazid,,

",,Sekarang tinggalkan pakaianmu, sebagai gantinya, pakailah baju yang lusuh, sobek, dan compang-camping, gantungkan di lehermu kantung berisi kacang, pergilah kau ke pasar, kumpulkan sebanyak mungkin anak2 kecil di sana, katakan pada mereka,, 

",,Hai anak2, barangsiapa di antara kalian yang mau menampar aku satu kali, aku beri satu kantung kacang,,"

lalu datangilah tempat di mana jamaah kamu sering mengagumimu, katakan juga pada mereka,,,

",,Siapa yang mau menampar mukaku, aku beri satu kantung kacang!,,"

",,Subhanalloh, masya Alloh, laa ilaaha illalloh,,,"

Kata murid itu terkejut,,

Abu Yazid berkata,,

",,Jika kalimat2 suci itu di ucapkan oleh orang kafir, ia berubah menjadi mukmin tapi kalau kalimat itu di ucapkan oleh seorang sepertimu, kau berubah dari mukmin menjadi kafir,,"

Murid itu keheranan,,

",,Mengapa bisa begitu,,"

Abu Yazid menjawab,,

",,Karena kelihatannya kau sedang memuji Alloh, padahal sebenarnya kau sedang memuji dirimu, ketika kau katakan : Tuhan mahasuci, seakan2 kau mensucikan Tuhan padahal kau menonjolkan kesucian dirimu,,"

",,Kalo begitu,,"

murid itu kembali meminta,,,

",,berilah saya nasihat lain,,"

Abu Yazid menjawab,,

",,Bukankah aku sudah bilang, kau takkan mampu melakukannya!!,,"

Cerita ini mengandung pelajaran yang amat berharga. Abu Yazid mengajarkan bahwa orang yang sering beribadah mudah terkena penyakit ujub dan takabbur,,

",,Hati2lah kalian dengan ujub,,"

Pesan Iblis,,

Dahulu,, Iblis beribadah ribuan tahun kepada Alloh tetapi karena takabburnya terhadap Adam,, Tuhan menjatuhkan Iblis ke derajat yang serendah2nya,,

Takabbur dapat terjadi karena amal atau kedudukan kita,, kita sering merasa menjadi orang yang penting dan mulia,, Abu Yazid Al-Busthomi menyuruh kita menjadi orang hina agar ego dan keinginan kita untuk menonjol dan
di hormati segera hancur, yang tersisa adalah perasaan tawadhu' dan kerendah-hatian hanya dengan itu kita bisa mencapai ke hadirat Alloh SWT,,

Orang2 yang suka mengaji juga dapat jatuh kepada ujub, mereka merasa telah memiliki ilmu yang banyak,,

Suatu hari, seseorang datang kepada Nabi,,

",,Ya Rasululloh, aku rasa aku telah banyak mengetahui syariat Islam, apakah ada hal lain yang dapat kupegang teguh?,,"

Nabi menjawab,,:
",,Katakanlah; Tuhanku Alloh,, kemudian beristiqamah-lah kamu,,"

Ujub seringkali terjadi di kalangan orang yang banyak beribadah,, orang sering merasa ibadah yang ia lakukan sudah lebih dari cukup sehingga ia menuntut Tuhan agar membayar pahala amal yang ia lakukan,, Ia menganggap ibadah sebagai investasi, orang yang gemar beribadah cenderung jatuh pada perasaan tinggi diri,, Ibadah di jadikan cara untuk meningkatkan statusnya di tengah masyarakat,, orang itu akan amat tersinggung bila tidak di berikan tempat yang memadai statusnya, sebagai seorang ahli ibadat dan ahli dzikir, ia ingin di sambut dalam setiap majelis dan di beri tempat duduk yang paling utama,,
Sebuah hadits yang di riwayatkan oleh Imam Ahmad dalam musnad-nya,,

Suatu hari, di depan Rasululloh SAW Abu Bakar menceritakan seorang sahabat yang amat rajin ibadatnya,, Ketekunannya menakjubkan semua orang tapi Rasululloh SAW tak memberikan komentar apa-apa,,

Para sahabat keheranan, mereka bertanya-tanya, mengapa Nabi tak menyuruh sahabat yang lain agar mengikuti sahabat ahli ibadat itu,,

Tiba2 orang yang di bicarakan itu lewat di hadapan majelis Nabi,, Ia kemudian duduk di tempat itu tanpa mengucapkan salam,, Abu Bakar berkata kepada Nabi,,

",,Itulah orang yang tadi kita bicarakan, ya Rasululloh,,"

Nabi hanya berkata,,,

",,Aku lihat ada bekas sentuhan setan di wajahnya,,"

Nabi SAW lalu mendekati orang itu dan bertanya,,

",,Bukankah kalo kamu datang di satu majelis kamu merasa bahwa kamulah orang yang paling sholih dimajelis itu?,,"

Sahabat yang ditanya menjawab,,

",,Allohumma, na'am,, Ya Alloh,, memang begitulah aku,,"

Orang itu lalu pergi meninggalkan majelis Nabi,,

Setelah itu Rasululloh bertanya kepada para sahabat,,

",,Siapa diantara kalian yang mau membunuh orang itu?,,"

",,Aku,,"

jawab Abu Bakar,,

Abu Bakar lalu pergi tapi tak berapa lama ia kembali lagi,,

",,Ya Rasululloh, bagaimana mungkin aku membunuhnya? Ia sedang ruku',,,"

Kanjeng Nabi tetap bertanya,,

",,Siapa yang mau membunuh orang itu?,,"

Umar bin Khoththob menjawab,,

",,Aku,,"

Tapi seperti juga Abu Bakar, ia kembali tanpa membunuh orang itu,,

",,Bagaimana mungkin aku bunuh orang yang sedang bersujud dan meratakan dahinya di atas tanah?,,"

Kanjeng Nabi masih bertanya,,,

",,Siapa yang akan membunuh orang itu?,,"

Sahabat Ali bangkit,,

",,Aku,,"

Ia lalu keluar dengan membawa pedang dan kembali dengan pedang yang masih bersih, tidak berlumuran darah,,,

",,Ia telah pergi, ya Rasululloh,,"

Kanjeng Nabi
kemudian bersabda,,;
",,,Sekiranya engkau bunuh dia, umatku takkan pecah sepeninggalku,,,"

Dari kisah ini pun kita dapat mengambil hikmah, selama di tengah2 kita masih terdapat orang yang merasa dirinya paling sholih, paling berilmu, dan paling benar dalam pendapatnya, pastilah terjadi perpecahan di kalangan kaum muslimin,, Nabi SAW memberikan pelajaran bagi umatnya bahwa perasaan ujub akan amal shalih yang dimiliki adalah penyebab perpecahan ditengah orang Islam,,

Ujub menjadi penghalang naiknya manusia ke tingkat yang lebih tinggi, penawarnya hanya satu, belajarlah menghinakan diri kita, seperti yang dinasihatkan Abu Yazid Al-Busthomi kepada santrinya,,

اللّهمّ صلّ وسلّم وبارك على سيدنا محمّد وعلى آله وأصحابه أجمعين

Wallahu a'lam bisshowab,,,
Semoga bermanfaat,,,
Aamiin aamiin aamiin,,..


Jumat, 21 Juni 2019

Perantara

Hidayah itu adalah hak 'prerogatif'nya GUSTI ALLOH, DIAlah yang berkehendak siapa-siapa yang mendapat petunjuk, juga siapa-siapa yang terhijabi dari petunjuk...

Perlu dipahami bahwa seorang GURU bukanlah perantara antara seorang murid dengan TUHANnya, apalagi pemberi hidayah... Tetapi tugas guru adalah sebagai pembimbing para murid untuk menuju hakikat Tuhannya...

Salah satu bentuk keangkuhan atau kesombongan seseorang yang kadang sulit di sadari adalah ketika ia tidak mau berguru, padahal sejatinya ia masih sangat butuh bimbingan guru...

Hatinya tercemar oleh ego "merasa bisa" dan mampu tanpa bimbingan guru... kesombongan itulah yang akan menutup juga menjauhkannya dari kesejatian Tuhan...

Tetaplah Nyantri, Broo.... karena itu kewajiban dari kita lahir sampe ajal menjemput kita..

Menuntut Ilmu itu dari kita lahir sampai kita ke liang qubur. (Al hadist)


Jumat, 03 Mei 2019

Iki Mafhum Mukholafah e

Sayyid Muhammad bin Alwi al-Maliki al-Hasani dalam kitabnya "Tahqîqul Amal fî Mâ Yanfa’ul Mayyita minal A’mâl" memberikan pemahaman lewat sebuah hadits shahih yang berbunyi:

أَنَّ الْمَيِّتَ يُعَذَّبُ بِبُكَاءِ أَهْلِهِ عَلَيْهِ

“Bahwa sesungguhnya mayit itu dapat disiksa sebab tangisan keluarganya.”

Hadits di atas menunjukkan bahwa ternyata orang yang masih hidup itu dapat memberikan pengaruh siksa kepada si mayit atas kuasa Allah. Sedang Allah adalah Dzat Yang Maha Pengasih.
Jika Allah memberikan adzab siksa kepada si mayit sebagai konsekuensi dari perbuatan keluarganya di dunia, maka bukankah mungkin jika Allah juga menyampaikan kenikmatan kepada si mayit sebab amal shalih yang dilakukan keluarganya?

Demikianlah mafhum mukhalafah (logika sebaliknya) yang dipaparkan oleh Abuya Sayyid Muhammad al-Mliki.

Jadi tetep bersamangat ke Kuburan yaa , Bro.....
Beliau semua yang sudah bersemayam di kuburan pasti senang dan bahagia jika kita menziarahi nya dan mendo'akan nya.... In sya Alloh....

اللّممّ إغفرلهم وارحمهم وآفهم واعف عنهم وأكرم نزلهم ووسّع مدخلهم
آمين آمين آمين يارب العالمين



Kamis, 06 Desember 2018

Debat Itu Jangan Marah Marah,, Slow, Bro..

●Debat Imam Syafi'i dan Imam Ahmad bin Hanbal tentang orang yang meninggalkan shalat.

Dalam kitab Tadzkirah al-Auliya’, Fariduddin Attar merekam diskusi Imam Syafi’i dan Imam Ahmad bin Hanbal tentang kedudukan orang yang meninggalkan shalat. Diceritakan:

أنه ذهب أحمد بن حنبل إلي أنّ تارك صلاة واحدة عمدا يكفر, عملا بظاهر الحديث: (من ترك صلاة متعمّدا فقد كفر). قال له الشافعي رضي الله عنه: إذا ترك أحد صلاة عمدًا وكفر كما هو مذهبك, كيف يعمل ليرجع إلي الإسلام؟ قال: يصلي. قال الشافعي رضي الله عنه: فكيف تصحّ الصلاة من الكافر؟! فانقطع أحمد عن الكلام.

Madzhab Imam Ahmad bin Hanbal menyatakan orang yang meninggalkan shalat satu kali saja dengan sengaja, dia dihukumi kafir. Dasarnya adalah zahir teks hadits: “Barangsiapa yang meninggalkan shalat dengan sengaja, dia telah kafir.”

Imam Syafi’i berkata kepadanya: “Jika seseorang yang meninggalkan shalat dengan sengaja dihukumi kafir seperti madzhabmu (pendapatmu), bagaimana cara orang tersebut kembali pada Islam?”

Imam Ahmad bin Hanbal menjawab: “Melakukan shalat.”

Imam Syafi’i berkata lagi: “Bagaimana mungkin shalat orang kafir dipandang sah?!”

Kemudian Imam Ahmad bin Hanbal diam, tidak mengatakan apa-apa lagi. (Fariduddin Attar, Tadzkirah al-Auliyâ’, alih bahasa Arab oleh Muhammad al-Ashîliy al-Wasthâni al-Syâfi’i (836 H), Damaskus: Darul Maktabi, 2009, hlm 272).

Perbedaan pendapat adalah hal yang lumrah dalam dunia akademik. Jika tidak ada perbedaan pendapat, khazanah keilmuan kita tidak akan sekaya ini. Kitab-kitab keagamaan akan terlihat ramping. Tidak ada kitab yang berjilid-jilid dan kaya informasi. Dari sudut pandang ini, perbedaan pendapat adalah rahmat, bentuk kasih sayang Tuhan yang Maha Berpengetahuan kepada umat manusia. Tinggal bagaimana kita melestarikannya.

Kisah di atas mengajarkan kita pentingnya untuk mengetahui bagaimana proses hukum fiqih terjadi. Misalnya hadits riwayat Imam Muslim yang mengatakan, “al-ghuslu yaum al-jum’ah wâjibun ‘ala kulli muhatalimin—mandi hari jumat wajib bagi setiap muslim yang telah baligh.”

Zahirnya jelas mengatakan kewajiban mandi Jumat, tapi mayoritas ulama menghukuminya sunnah, meski ada juga yang menghukuminya wajib seperti Madzhab Dzahiri. Kenapa hal ini bisa terjadi? Karena ulama tidak gegabah mengambil kesimpulan tanpa melakukan telaah mendalam. Dalam kasus mandi Jumat, para ulama harus mempertimbangkan zahir hadits lainnya.

مَنْ تَوَضَّأَ يَوْمَ الْجُمُعَةِ فَبِهَا وَنِعْمَتْ وَمَنِ اغْتَسَلَ فَالْغُسْلُ أَفْضَلُ

“Barangsiapa yang berwudlu di hari jumat maka cukup baginya dan baik. Barangsiapa yang mandi jumat, maka mandi itu lebih utama.” (H.R. Imam Tirmidzi dan Imam Abu Daud)

Atas dasar hadits di atas, mayoritas ulama mengatakan bahwa mandi Jumat hukumnya sunnah, bukan wajib. Begitupun dengan diskusi Imam Syafi’i dan Imam Ahmad bin Hanbal tentang kedudukan orang yang meninggalkan shalat.

Imam Syafi’i tentunya tahu dasar argumentasi Imam Ahmad bin Hanbal. Tapi Ia pun tidak bisa mengabaikan hadits tentang larangan mudahnya mengkafirkan orang (HR. Imam Muslim): “man da’â rajulan bi al-kufr aw qâla ‘aduwwa Allah wa laisa kadzalik illâ hâra ilaih—barang siapa yang mendakwa seseorang dengan kekufuran, atau menyebutnya musuh Allah, sedangkan dia tidak seperti itu, hal tersebut akan kembali pada yang mengucapkannya.”

Dalam Madzhab Syafi’i, orang yang meninggalkan shalat bisa dikatakan kafir ketika dia meninggalkannya karena mengingkari kewajiban shalat (jâhidan li wujûbihi). Akan tetapi, jika meninggalkannya karena malas (kaslan) dan menyepelekan (tahâwun), orang tersebut tidak dihukumi kafir, tetapi berdosa. (Fariduddin Attar, 2009, 272).

Karena itu sangat penting untuk memahami keragaman hukum fikih untuk memperluas pengetahuan kita. Orang yang berpengetahuan luas, biasanya tidak akan mempersulit tapi mempermudah, seperti kisah ulama-ulama kita di masa lalu. Memberikan hukum yang paling mudah untuk masyarakat umum, dan memberikan hukum yang paling berat untuk dirinya sendiri.

Kisah di atas mengajarkan kita beberapa hal. Pertama, jangan mudah menyalahkan amalan orang lain, siapa tahu dia mempunyai dasar hukum dalam amalannya itu. Kedua, pentingnya mempelajari mekanisme pengambilan hukum fiqih (ushul fiqih), agar pemahaman kita terhadap zahir teks lebih dekat dengan pemahaman yang benar.

Ketiga, pentingnya mengetahui keragaman pendapat ulama. Ketika perbedaan pendapatnya masih dalam wilayah furu’iyyah, tidak perlu menyalahkan satu sama lain. Setiap pendapat memiliki dasarnya sendiri-sendiri.

Tergantung pada kekuatan nalar kita. Kita diberi kebebasan untuk memilih mana pendapat yang lebih kuat, meski belum tentu pendapat yang menurut kita lebih kuat, lebih benar dari pendapat lainnya.

Keempat, pintu taubat selalu terbuka. Imam Syafi’i enggan menyebut orang yang meninggalkan shalat sebagai orang kafir. Ia memandang semua manusia memiliki kesempatan yang sama untuk kembali kepada Allah. Pendekatannya tidak menakuti orang-orang yang terlanjur bermaksiat, tapi merangkul mereka.

Kelima, mencari kebenaran, bukan kemenangan. Pada akhir diskusi, Imam Ahmad bin Hanbal diam. Artinya, Ia membenarkan pendapat Imam Syafi’i. Ia tidak ngotot mempertahankan pendapatnya, tapi menerimanya dengan tidak melakukan bantahan. Karena yang mereka cari dari debat atau diskusi tersebu bukanlah kemenangan atau kemewahan intelektual, melainkan kebenaran.

PERTANYAANNYA.... SEBERAPA BANYAK KITA LUANGKAN WAKTU KITA UNTUK BELAJAR DENGAN GURU YANG BENAR-BENAR MUMPUNI....?? JIKA BELUM,, KENAPA KITA MUDAH MENGOMENTARI WILAYAH DI LUAR KEAHLIAN KITA, BAHKAN MENYALAHKANNYA...!!
SEMOGA KITA SEMUA TERHINDAR DARI HAL TERSEBUT.. AAMIIN... 

Sabtu, 24 November 2018

2 Umar Yang Hebat Dan 1 Umar,, Saya..

Ada 2 UMAR dalam sejarah Islam, yang dikenal dan dikenang sebagai Khalifah yg JUJUR, TEGAS, BIJAKSANA serta sangat teguh dalam AKIDAH.. Dan saya adalah salah satu dri beribu ribu orang yang suka, hurmat dan takdzim kepada beliau,, sehingga nama ku ta tambahi UMAR..... 

Yang pertama tentu saja Umar bin Khatab (RA), Khalifah kedua yang menggantikan Abu Bakar Ashsiddiq (RA), dan yang kedua adalah Umar bin Abdulazis, Khalifah ke 8 keturunan Umayyah.

Tak perlu dikisahkan tentang kedua Umar tersebut, karena perilaku mereka sudah begitu termasyur, bahkan mudah dicari literatur tentang kiprah mereka. Subhanalloh.. 

Yang menarik adalah, kedua tokoh hebat yang dikisahkan telah membawa kejayaan Islam serta kesejahteraan umat itu, wafat karena DIBUNUH.. 
😱😱😱

Umar bin Khatab wafat ditikam saat menjadi Imam Sholat Shubuh, oleh Abu Lu'lu'ah, tokoh Majusi yang menyusup diantara kaum Muslimin karena dendam, sebab kaum Majusi di Persia telah dikalahkan oleh pasukan Muslim, sehingga banyak orang Majusi yang kemudian menjadi Muslim.

Sedangkan Umar bin Abdul Azis wafat diracun oleh kerabatnya sendiri, karena kebijakan-kebijakannya Yang tidak berpihak pada kepentingan keluarga (Bani Umayyah), dan lebih mementingkan kepentingan umat.

Dari kisah beliau berdua di atas, dapat lah SAYA ambil kesimpulan,, bahwa ketika kita ada rasa TIDAK SUKA kepada Pemimpin, terkadang kita perlu merenung atau berpikir, benarkah Pemimpin itu layak untuk TIDAK DISUKAI karena "buruk", atau karena kita yang BELUM SIAP dengan kepemimpinannya, karena kepentingan-kepentingan kita terganggu dan merasa tersingkirkan....???

Monggo di renungi,, sambil ngopi item 'giehh....


Jumat, 16 November 2018

Ini soal HATI, bro..

Tuhan itu menciptakan segala sesuatunya berpasang-pasangan, ada Gelap pasti ada Terang, ada Baik pasti ada Buruk, ada Musa ada Ramses III (Fir'aun yg jahat).
Ada Kyai pasti ada Penjahat, ada Ustadzah pasti diciptakan pula Pelacur.
Gak ada Manusia yg bisa merubah "peran" manusia lainnya dalam kehidupan ini, kecuali Tuhan, Gusti Alloh Subhanahu Wa Ta'ala...

Manusia sebagai HAMBA Tuhan, bisanya cuma memohon agar Tuhan berkenan menjadikan Manusia yg "tidak baik" menjadi "baik", namun tetap saja semuanya kembali pada KEHENDAK TUHAN.

Seorang Hamba tak akan pernah tahu akan Kehendak Tuhan, bahkan tingkatan Nabi sekalipun, kalaupun tahu, pastilah karena DIBERI TAHU OLEH ALLOH YANG MAHA TAHU.
Tak ada yg bisa merubah Buaya untuk makan Rumput, atau Gajah makan Daging, kecuali atas kehendak PENCIPTA-NYA.

Maka bersyukurlah Hamba Tuhan yg kebagian "peran" jadi Manusia baik-baik utuk tetap menjadi baik-baik, jangan sampai Tuhan "sebel" dan menjadikan sebaliknya .. Robbana laa tuziqqulubana ....

Tuhan menciptakan kita hidup dalam kehidupan kita sebagai Hamba, adalah bagian dari RENCANA-NYA.
Kalau Tuhan sudah "BOSAN" dan "TIDAK SUKA", maka akan dihancurkan, dan musnahlah era ADAM, tergantikan dengan era yg lain ... wallahu a‘lam...

Dapat peran PROTAGONIS ataupun ANTAGONIS dalam kehidupan, ya mestinya terima saja, kalau itu memang KEHENDAK-NYA dan TUHAN RIDHO....,,

Tapi bagaimana kita bisa tahu bahwa itu KEHENDAK TUHAN ?, sementara IBLIS juga bisa mempengaruhi kita, dengan memberikan petunjuk yg seakan berasal dari Tuhan.
Tak cukup hanya diolah dengan Akal Fikir, tapi harus dibarengi dengan LAKU SPIRITUAL,, ngaji babakan ATI, bro...., yg sekiranya dapat mendekatkan seorang Hamba kepada Tuhannya.... ..

Wallohu A'lam.....


Sabtu, 10 November 2018

Kita itu dari Tanah, maka jadilah seperti tanah !!!

Ketika ada kalimat "Manusia berasal dari Tanah", mungkin hampir 100% orang-orang yg punya KEYAKINAN akan sependapat, karena ajaran Agama Samawi memang menyampaikan demikian,,,,,

Itulah yg kemudian (- menurutku -) Manusia seyogyanya BERSIFAT seperti Tanah,,,
Tanah yg terkesan banyak DIAM, selalu "DI BAWAH", tidak bereaksi ketika di injak, di lukai, di kencingi, bahkan di beraki, oleh apapun dan siapapun,,,,
Tanah pasrah dengan segala keberadaannya, dan tetap akan MENGHIDUPI apapun dan siapapun yg membutuhkannya.....

Ketika ada kalimat "Sorga ada di bawah telapak kaki Ibu", aku tetap berfikir tentang Tanah, sebab yg berada di bawah telapak kaki Ibu, pada ujungnya tetaplah Tanah....
Apa gunanya kita memuliakan Ibu kita, bahkan sampai kita minum air cucian kaki Ibu kita, jikalo kita masih berlaku dzolim kepada makhluk lain, masih berlaku keji, masih mencuri milik orang lain dan, masih-masih lainnya....

Bisa jadi Sorganya Gusti Alloh itu, baru akan dapat kita nikmati jika kita bisa mengamalkan SIFAT TANAH, yg selalu Ikhlas dan ridho menerima apa yg menjadi KEHENDAK-NYA. penuh ketaqwaan, Tawaddu, serta dapat BERMANFAAT bagi yg lainnya....
Wallahu a’lam....

Rabu, 01 Agustus 2018

Islam (di) Nusantara

ISLAM (DI) NUSANTARA

Islamnya shalat, tetap,,
Nusantaranya ditambahi puji-pujian sebelum shalat, sambil nunggu yang masih pulang dari sawah. Biar pada denger dikasih tau pake bedug dan kentongan!

Islamnya nyuruh baca kalimah thayyibah,
Nusantaranya ada tahlilan, dzikir sehabis shalat,, kalo nggak bareng-bareng suka lupa soalnya.

Islamnya haji ke Mekah,
Nusantaranya ada manasik dulu di alun-alun pakai triplek, miniatur ka'bah. Maklum, jauh, nggak pernah liat. Tahunya sini Borobudur pas study tour!

Islamnya nyuruh bersedekah,
Nusantaranya ada bagi-bagi berkat (full gizi).

Islamnya nyuruh orang kenal nabi,
Nusantaranya ada peringatan maulid nabi, sholawatan dan pembacaan al-berzanji (biografi nabi).
Maklum, kenalnya Gatotkaca sama Wirosableng pendekar 212.

Islamnya nyuruh orang saling memaafkan,
Nusantaranya ada tradisi mudik, sungkem dan halal bihalal pasca lebaran.

Islamnya nyuruh nutup aurat,
Nusantaranya pake sarung dan peci. Pake sorban, blangkon, atau jeans juga nggak papa, asal jangan ketat-ketat. Kalo ke sawah pake jubah ribet soalnya.

Islamnya nyuruh berkurban,
Nusantaranya pakai kambing atau sapi (tak ada unta coy). Kalau ngambil di kebun binatang ntar ditangkap Pak Tito Karnavian.

Islamnya nyuruh "tafaqquh fid-dien,"
Nusantaranya ada TPQ, pesantren, UIN/STAI/STAIN dll.

Islamnya nyuruh selalu inget Allah,
Nusantaranya ada majelis dzikir, istighasah, pengajian akbar (sampe nutup jalan segala).

Islamnya nyuruh baca dan dengerin al-Quran (meski cuma denger, pahalanya sama, hlo),
Nusantara-nya ada semaan al-Quran, atau minimal ya yasinan (hatinya Quran). Simple toh,, 

Islamnya nyuruh bikin "ummatan wasathan" (ummat yang moderat),
Nusantaranya ada ormas Islam. Meski sekarang ada ormas yang serem... 

Islamnya nyuruh mengenang nenek moyang agar tahu asal-usul dan "tempat kembali" (bahkan sampai Nabi di Mi'rajkan agar tahu leluhur dan kelak juga kita mati) dan napak tilas sejarah Nabi Adam as dan Nabi Ibrahim as dalam haji,
Nusantaranya - selain haji tadi - ada tradisi ziarah walisongo, makam leluhur dan haul.

Islamnya nyuruh menghormati dan memuliakan tamu,
Nusantaranya - khususnya di beberapa daerah tertentu - selalu disilakan makan (Jawa: disuguh). Gratis,bro... 

Islamnya nyuruh laki-laki disunat (dikhitan) "itu"-nya (sakit banget tau, nggak lagi-lagi),
Nusantaranya si anak ditumpakin ke kuda, diarak, karnaval rame-rame, namanya khitanan massal. Selain tasyakuran dan potensi wisata budaya (soalnya banyak yang nonton dan jualan) , juga biar yang dikhitan seneng dan lupa sakitnya!

Islamnya nyuruh mengormati orang tua,
Nusantaranya - antara lain - berbahasa kromo dan mencium tangan orang tua, dan ngopeni. (Nggak dititipin di panti jompo kayak di AS).

Islamnya melarang memanggil Nabi dengan namanya saja,
Nusantaranya ada "Kanjeng" Nabi Muhammad, atau Sayyidina. Jangankan pada Nabi, (maaf, tidak bermaksud merendahkan; profesi ini mulia) sama tukang parkir aja kita manggil "Pak" atau " Mas".

Islamnya nyuruh jomblo untuk nikah dengan segala syarat dan rukunnya, plus resepsi,
Nusantaranya ditambahin baju, adat dan tradisi khas pernikahan, pesta nanggap wayang, gambus atau orkes dangdut ala Bang Haji Rhoma Irama... 

Islamnya nyuruh " Iqra' " , membaca dan belajar,
Nusantaranya ada tradisi penulisan "kitab pegon" (berbahasa jawa, sunda, melayu, dll), juga syair, tembang, lagu, cerita wayang, film dll, untuk mengajarkan agama pada masyarakat... 

Islamnya nyuruh diskusiin kalau ada problem ummat (wasyaawirhum fil amri),
Di sini ada "musyawarah", "bahtsul masail", sidang MPR, dll.

Islamnya nyuruh kita bikin negara yang aman, "baladil amin",
Nusantaranya ada Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI).

Islamnya ngajarin bikin kesepakatan dalam membikin negara: "Piagam Madinah", yang mengayomi semua agama dan suku.
Nusantaranya ada "Pancasila" yang isinya senafas dengan islam, dan di terima di Indonesia yang bhineka tunggal Ika..


Merdeka
Merdekaaaa
MERRRDEKAAA


Kamis, 12 Juli 2018

Islam ya Islam ( Nusantara)


Dhawuh Kyai-ku ;
"yang bergamis bersorban WAJAH-nya SENYUM itu itba' Kanjeng Rosul, yang bergamis bersorban WAJAH-nya SANGAR itu itba' Abu Jahal... "

tak tambahi ;
"yang sarungan berpeci WAJAH-nya SENYUM itu orang Nusantara yang beragama Islam, yang sarungan berpeci WAJAH-nya SANGAR itu orang Islam yang KEBETULAN tinggal di Nusantara"

Jadi bukan perkara bagaimana CARA-nya, tapi bagaimana isi hatinya.
Orang Nusantara yang beragama Islam, tak akan rela Nusantara ini diacak-acak, diadu domba, diganti kelir, apalagi mau di-RUBAH, sementara orang Islam yang tinggal di Nusantara bisa jadi TAK AKAN PEDULI, sebab tak punya rasa memiliki.,,, 

Jadi kesimpulannya, ISLAM NUSANTARA bukan sesuatu yg baru, tapi cara orang NUSANTARA beragama ISLAM, yang menanamkan 6 Rukun Iman dalam jiwanya, menjalankan 5 Rukun Islam dalam kesehariannya, juga CINTA TANAH AIR, CINTA SESAMA MANUSIA, CINTA KERUKUNAN antar UMAT BERAGAMA, CINTA PERSATUAN, SUDI GOTONG ROYONG, TAHLILAN, MAULUDAN, HORMAT KEPADA LELUHUR, HORMAT KEPADA YG TUA, SAYANG KEPADA YG MUDA, ANTI TAKFIRI, ANTI KEKERASAN, MENGHORMATI TRADISI dan, MEMAHAMI KEARIFAN LOKAL... 

Ngono lhooo,,, 

Paham ya ? .. jangan mengambil kesimpulan kalau belum paham ... aku nyusun kalimatnya udah hati-hati, supaya jangan ada yg sakit hati, jadi jangan tanya-tanya lagi.
Mari kita renungkan dengan NALAR WARAS, mumpung malam Jum'at, bro......