Sabtu, 23 Februari 2019

Pasar Gelap UstazD

Saya berkali-kali menyampaikan, hati-hati mencari ustaz. Jangan sembarangan mengundang orang untuk mengisi pengajian, memanggil dia ustaz, apalagi menyebutnya sebagai ulama.,,
Saya perlu semakin serius mengingatkan hal ini. Karena semakin banyak orang-orang yang hanya bermodal bisa pidato, berbaju gamis, mengumpat sana-sini diundang kemana-mana, dipanggil ustaz. Hafal satu dua ayat al-Quran dan hadis cukup menjadi modal.
Pasar gelap ustaz ini biasanya dihuni dua kelompok besar. Pertama, para muallaf. Beberapa muallaf, meskipun tidak punya ilmu keislaman yang cukup, tiba-tiba dia menjadi ustaz karena modal bisa pidato. Yang paling banyak diceramahkan biasanya menjelek-jelekkan keyakinan lamanya. Dia ingin menunjukkan sekarang sudah mendapat "hidayah". Tak lupa, biasanya juga menebar ketakutan, bahwa agama lamanya itu menjadi ancaman terhadap Islam. Kalau melihat orang seperti ini, saya sering jengkel sendiri, membayangkan kalau ada orang keluar dari Islam kemudian menjelek-jelekkan Islam dalam komunitas agamanya yang baru. Orang-orang seperti ini yang biasanya menaikkan ketegangan muslim dan non muslim.,,
Kedua, orang-orang yang dulu jauh dari Islam, suka maksiat dan sebagainya, kemudian berubah menjadi lebih religius, mengubah penampilan dan sebagainya. Orang-orang seperti ini biasanya menyebut diri sebagai orang yang sudah "hijrah". Modal kegelapan masa lalu dieksploitasi, seolah sekarang sudah benar-benar hidup dalam terang. Dengan modal bisa pidato, punya tim media sosial untuk menaikkan popularitasnya, mereka tiba-tiba dipanggil ustaz dan dijadikan rujukan dalam beragama.,,
Duakelompok ini, intinya sama. Mereka tidak punya otoritas keagamaan, tapi dimanjakan oleh situasi. Mareka memanfaatkan media sosial untuk marketing. Yang saya heran, orang-orang seperti ini banyak yang tidak tahu diri soal kapasitas keislamannya.,, Na'udZubillahi min dzalika...
pasar gelap ustaz ini bisa terjadi karena dua hal. Pertama, Islam memang longgar dan tidak ada lembaga yang melakukan "standarisasi" keulamaan seseorang. Pasar ustaz dalam Islam sangat terbuka. Semua sangat tergantung pada "pasar". Jika Anda populer, ceramahnya disukai orang, maka Anda bisa masuk dalam pasar keulamaan ini, Bro..
Kedua sekarang banyak sarana yang bisa digunakan untuk branding. Jika dulu, untuk menjadi ustaz atau ulama membutuhkan waktu untuk diakui masyarakat, sekarang pengakuan itu bisa dilakukan dengan instan. Yang penting populer di medsos, itu sudah cukup.,, Sampun cekap, para Sodara.....!!
Siapa yang menjadi korban dari pasar gelap ini? ya masyarakat Islam sendiri. Orang-orang ini bicara atas nama Islam, padahal dia sama sekali tidak punya otoritas ilmu dan moral. Saya tak perlu menyebut nama sebagai contoh. Sekarang ini, masyarakat Islam suka marah-marah, sebagian merupakan hasil dari pasar gelap itu. Benar kata ahli yang mengatakan, di era disrupsi informasi maka akan lahir era matinya keahlian (death of expertise). Yang menjadi rujukan masyarakat bukan orang-orang yang punya otoritas, tapi orang yang terkenal, terutama di media sosial. Lihat saja survey-survey tentang tokoh-tokoh agama yang mereka ikuti, sebagian adalah orang-orang yang lain di pasar gelap ustaz itu
Masyarakat harus dididik agar mempunyai literasi keualamaan. Kalau mau menuntut ilmu keislaman, belajarlah pada orang-orang yang gurunya jelas, sanad ilmunya juga jelas. Jangan terpesona dengan tampilan luar. Saya senang, sekarang masyarakat sudah mulai kritis dan berani mempertanyakan ustaz yang menebarkan kebencian dimana-mana. Hanya masyarakat seperti ini yang bisa menghentikan pasar gelap itu..
Innama yakh'syalloohumin ibadihill ulamaa...
Wallohu a'lamubimurodihi.....


Kamis, 14 Februari 2019

Berkah Kiyai Doa Terqobul.

Di bawah ini adalah beberapa do'a Jawa yang di ajarkan para ulama sepuh kita...
Allohumma Ighfir Lana walahum war'hamna walahum..
Aamiin..

1. KH. Ahmad Abdul Haq meriwayatkan bahwa KH. Dalhar Watucongol Magelang mempunyai doa agar tekun bekerja dan diberi kelapangan rizki.

“Allahumma ubat-ubet, biso nyandang biso ngliwet. Allahumma ubat-ubet, mugo-mugo pinaringan slamet. Allahumma kitra-kitri, sugih bebek sugih meri. Allahumma kitra-kitri, sugih sapi sugih pari.”

(Allahumma ubat-ubet, punya baju punya nasi. Allahumma ubat-ubet, semoga diberi selamat. Allahumma kitra-kitri, kaya bebek dan anaknya. Allahumma kitra-kitri, kaya sapi kaya padi)

2. KH. Achmad Chalwani Nawawi mempunyai doa yg terkait dgn keamanan.

“Bismillahirrahmānirrahim. Kun Fayakun, rinekso dhening Allah, jinogo dhening moloekat papat, pinayungan dhening poro nabi, Laa ilaha illallah Muhammadur Rasulullah.”

(Bismillahirrahmanirrahim. Kun Fayakun, dikehendaki oleh Allah, dijaga oleh 4 malaikat, dipayungi oleh para Nabi, Laa ilaaha illallah Muhammadur Rasulullah)

3. KH. Ma’ruf Kedunglo mempunyai doa suwuk untuk bekal pasukan Hizbullah dan ditiupkan ke air.

“Allahumma sallimnaa minal bom wal bedil wal bunduq wal martil wa uddada hayatina”

(Ya Allah selamatkan kami dari bom dan senapan dan meriam dan jagalah hidup kami)

4. KH. Bisri Musthofa meriwayatkan doa dari KH. Kholil Kasingan Rembang sebuah doa agar berhasil menyapih bayi.

“Bismillahirrahmanirrahim. Cerma ratu, si bayi laliyo duduh susu, ilingo sego lan banyu, adem asrep, saking Allah Ta’ala, Laa ilaaha illallah, Muhammadur Rasulullah”

(Bismillahirrahmaanirrahiim, Cerma ratu, si bayi lupakan air susu, ingatlah nasi dan air, adem asrep, dengan kehendak Allah Ta’ala, Laa ilaaha illallah, Muhammadur Rasulullah)

5. KH. Bisri Musthofa juga meriwayatkan doa dari KH. Ma’ruf Kedunglo, doa agar orator dan orang berpidato diberi kelancaran.

“Bismillahirrahmanirrahim, sang manik cemar uripmu wus kacekel. Diluk dingkul katungkul dingkul
(diwoco ping 3 tanpo ambekan)
Laa ilaaha illallah, Muhammadur Rasulullah”

(Bismillahirrahmaanirrahim, sang manik cemar hidupmu sudah kupegang.
Diluk dingkul katungkul dingkul (dibaca 3 kali tanpa bernafas) Laa ilaaha illallaah, Muhammadur Rasulullah”.

Dari sini, kita tidak perlu takut atau ragu berdoa. Gunakan bahasa apapun yg kita bisa, yakin kepada Allah SWT akan menerimanya.
Wallohu A'lam...

Semoga bermanfaat , Broo.,,,


Kamis, 31 Januari 2019

Berbeda itu ROHMAH, ora kudu Podo, Broo,,

Beda Itu Biasa
Apa jadinya jika isi dunia ini sama ? Apa jadinya jika wajahku, wajahmu, wajah kita semua sama ? Apa jadinya jika pangkat dan jabatan semua manusia sama ? Apa jadinya jika harta kekayaan kita jumlahnya sama ? Apa jadinya, apa jadinya, apa jadinya jika tidak ada yang berbeda ?
Nah loh !
Misal ya !
Jika yang ada di dunia wajahku dan wajahmu sama. Wajah istriku dan istrimu sama. Wajah serta postur dan karakter anakku dan anakmu sama. Apa tidak mumet kepalaku, kepalamu, kepala istriku, kepala istrimu, kepala anakku, maupun kepala anakmu.
Silahkan bayangkan contoh yang lain.
Ahir-ahir ini ada banyak orang yang belum siap dngan kebhinekaan, belum siap dengan perbedaan, belum dewasa menghadapi keberagaman, dan belum mengerti arti kemajemukan.
Sikap belum siap berbeda terjadi di semua lini kebidupan. Dalam beragama, berpolitik, berprofesi, dan seterusnya sering orang ingin satu warna. Bahkan memaksa untuk sewarna. Karena keinginan berseragam dalam semua lini ditunggangi oleh ego, akibatnya juga menimbulkan sikap yang kacau. Biasanya, yang tidak sewarna, tidak sealiran, dan tidak sepilihan dianggap sebagai musuhnya. Meskipun di antara mereka ada pertalian darah.
Yang cukup unik, keinginan menyeragamkan sesuatu itu juga merasuk dan bertahta di dada orang-orang yang beragama untuk menyamakan amaliah furuiyah ibadahnya. Dan ini terjadi di semua agama. Dalam agama saya, Islam, pun lahir aliran-aliran yang berbeda-beda. Tak jarang perbedaan ini menghadirkan benturan yang tajam. Satu kelompok menuduh kelompok lain sesat. Tuduhan itu dibalas dengan tuduhan lain yang tak kalah sadis. Misal, kafir, musrik, ahli neraka dan seterusnya.

Dulu saya juga sempat berfikir. Masak umat Islam yang satu nabi dan satu kitab suci tidak bisa seragam dalam ibadah ? Rasa penasaran itu terjawab dengan ditemukannya sabda Rasulullah saw yang beragam dalam menanggapi satu kejadian. Dalam al Quran pun para mufassir sering berbeda dalam menafsirkan ayat yang sama. Dalam fikih, madzhab-madzhab para imam pun berbeda-beda. Dari sana saya temukan jawaban bahwa perbedaan itu adalah sunnatullah atau ketetapan Allah ! Kekecewaan akan dirasa demikian menyakitkan bagi yang ingin menyeragamkan segala sesuatu.
Dalam beragama, saya menyikapi perbedaan dengan simple. Selama rukun iman dan rukun islam kita sama, maka kita adalah saudara. Perkara ibadah furuiyah, ya tak apa berbeda !
Dan yang paling penting,,!!! Mari berbeda tanpa mencela. Mari berlainan pilihan namun jangan merendahkan.,,
Wiss,, paham Tohh,,???



Jumat, 04 Januari 2019

Ummatan Hyokyok'oo

Umat Islam di Indonesia ini joss dalam hal menciptakan materi diskusi. Waktu natal, temanya ya natal. Tahun baru, judulnya ya tahun baru. Giliran maulid Nabi saw, temanya ya maulid Nabi saw, dstnya.
Asyik kan hidup di Indonesia...... 
Dan yang garang-garang dari mereka adalah yang baru-baru belajar agama. Sehingga dengan kegarangannya merasa lebih baik, lebih shalih, lebih takwa, dan lebih layak diikuti pendapatnya. Kadang saking garangnya lupa masa lalu yang sudah dilewatinya..... Haddeehh.... 
Terhadap yang demikian itu saya sering menjuluki *ummatan koyo hyokyok'oo*. Dan tahun baru di  tahun 2019 ini, amati saja, rata-rata kids-kids jaman now yang mengharamkan kembang api, tiup terompet, dan seterusnya adalah mereka yang dulu aktif meramaikan. Sementara yang dari awal menganggap tahun baru sebagai pergantian yang biasa dan dijadikan momen introspeksi serta bersyukur sikapnya ya biasa-biasa saja.... 
Oh ya, rata-rata dari kids-kids itu dangkal ilmu agamanya. Baca al Quran saja kadang grotal-gratul. Apalagi menguasai ilmu-ilmu lain. Daripada teriak-teriak merasa lebih baik, mbok ya belajar agama saja pada ulama' yang betul-betul 'alim. Latihan menata hati agar tak mudah benci. Latihan mengenal dakwah dan seterusnya....
Mbok ojo hyokyok'oo ngunu ahh, Bro....



Senin, 24 Desember 2018

Innama Buistu Li Utammima Makarimal Akhlaq

Di bawah ini adalah sebagian kecil dari akhlak mulia Nabi Muhammad SAW, Saya hanya khawatir jika akhlak Rasul SAW tidak dikabarkan, ada sebagian kalangan yang beranggapan bahwa apa yang mereka lakukan itu mengikuti jejak Baginda Rasulullah SAW,....Rasul SAW tidak pernah berakhlak seperti itu.. Seperti yang baru baru ini viral di Tipi,, Soal sebagian kecil dzurriyyah Nabi yang berkelakuan jauh dari Akhlaq Nabi SAW...

Shollu Alannabi Muhammad Shollallohu Alaihi Wasallam....

Al-Imam At-Tirmizi di dalam kitab AsSyamaail meriwayatkan sebuah dialog antara Al-Husein bin Ali dengan ayahnya (Ali ibn Abi Thalib).

«قال الحسين: سألت أبي عن سيرة النبي صلى الله عليه وسلم في جلسائه فقال: كان رسول الله صلى الله عليه وسلم

Al-Husain Radiyallahu 'anhu berkata : " Aku pernah bertanya kepada ayahku ( Ali bin Abi Thalib ) mengenai kehidupan Rasulullah SAW di tengah-tengah para sahabatnya. Imam Ali KRW menjelaskan bahwa Rasulullah SAW adalah :

دائم البشر

Seorang yang berwajah ramah dan ceria

سهل الخلق، لين الجانب

Akhlaq dan perilaku yang yang lembut

ليس بفظ ولا غليظ ولا صخاب ولا فحاش ولا عياب ولا مشاح

Tidak pernah membuat jahat, ucapan dan perbuatannya tidak kotor, tidak suka memprotes dan mencela orang lain, tidak berlebih-lebihan dalam memuji.

يتغافل عما لا يشتهي،

Mudah melupakan hal-hal yang tidak berkenan di hatinya ( tidak menyimpan dendam ).

ولا يؤيس منه راجيه ،

Tidak memutuskan harapan orang lain

ولا يجيب فيه،
Berusaha membuat orang lain optimis

قد ترك نفسه من ثلاث: المراء والإكثار وما لا يعنيه ،

Berusaha menjauhi tiga perkara: perselisihan dengan orang lain ( dalam perkataan dan harta ), boros berkata-kata dan dengan harta, menjauhi segala sesuatu yang tidak bermanfaat.

وترك الناس من ثلاث: كان لا يذم أحدا ولا يعيبه ولا يطلب عورته ، ولا يتكلم إلا فيما رجا ثوابه

Nabi SAW menjauhi manusia yang kerap melakukan 3 perkara: (1) Suka mencela dan menghina orang lain, (2) membuka aib( kejelekan ) orang lain, (3) berbicara dengan orang lain tanpa manfaat

وإذا تكلم أطرق جلساؤه كأنما على رؤوسهم الطير ،

Jika Rasulullah SAW bersuara, para sahabat akan menundukkan kepala mereka seakan-akan di atas kepala mereka terdapat suatu beban. (Khusyuk mendengarkan)

فإذا سكت تكلموا،

Apabila Baginda diam (telah selesai bicara) barulah para sahabat berbicara

لا يتنازعون عنده الحديث،

Mereka tidak berselisih pandangan di hadapan Baginda SAW

من تكلم عنده أنصتوا له حتى يفرغ،

Siapa pun berbicara dengan Baginda SAW, sahabat yang lain akan diam memerhatikan hinggalah orang itu selesai berbicara

حديثهم عنده حديث أولهم،

Baru disusuli oleh perbicaraan yang berikutnya

يضحك مما يضحكون منه

Baginda SAW akan tertawa hanya apabila mereka tertawa (tidak tertawa duluan/tersenyum)

ويتعجب مما يتعجبون منه

Baginda mengagumi sesuatu yang dikagumi oleh mereka

ويصبر للغريب على الجفوة في منطقة ومسألته، حتى إذا كان أصحابه ليستجلبونهم .

Baginda SAW bersabar atas sikap kasar dan permintaan orang asing (yang belum mengenali Baginda ), hingga para sahabat pun ikut memerhatikan permintaan orang asing tersebut.

«ويقول: إذا رأيتم طالب حاجة يطلبها فأرفدوه .

Baginda SAW bersabda : " Apabila kamu melihat seseorang yang mencari sesuatu yang diperlukan , maka bantulah ia ".

ولا يقبل الثناء إلا من مكافىء ،

Baginda SAW tidak menerima pujian atas apa yang tidak Baginda kerjakan

ولا يقطع على أحد حديثه حتى يجوز فيقطعه بنهي أو قيام» .

Baginda SAW tidak suka memotong perbicaraan orang lain kecuali pada perkataan-perkataan yang tidak baik sehingga Baginda dapat mencegahnya atau Baginda terus berdiri lalu meninggalkannya.

Ini hanya sebagian kecil akhlak Rasulullah SAW yang telah dibuktikan oleh sejarah dan diakui oleh lawan maupun kawan. Masih banyak akhak mulia beliau SAW yang bisa kita temukan dari sejarah kehidupan Beliau.

Jika Nabi SAW begitu indah dan mulia dengan akhlak. Lalu kemudian Habib muda yang ceramahnya suka maki2 orang itu ngikutin akhlak siapa?? Pikir sendiri aja.

Semoga kita selaku umatnya senantiasa diberikan kemudahan untuk meneladani Beliau SAW.

Aamiin Aamiin Aamiin Yaa Robbal Aalamiin....


Kamis, 06 Desember 2018

Debat Itu Jangan Marah Marah,, Slow, Bro..

●Debat Imam Syafi'i dan Imam Ahmad bin Hanbal tentang orang yang meninggalkan shalat.

Dalam kitab Tadzkirah al-Auliya’, Fariduddin Attar merekam diskusi Imam Syafi’i dan Imam Ahmad bin Hanbal tentang kedudukan orang yang meninggalkan shalat. Diceritakan:

أنه ذهب أحمد بن حنبل إلي أنّ تارك صلاة واحدة عمدا يكفر, عملا بظاهر الحديث: (من ترك صلاة متعمّدا فقد كفر). قال له الشافعي رضي الله عنه: إذا ترك أحد صلاة عمدًا وكفر كما هو مذهبك, كيف يعمل ليرجع إلي الإسلام؟ قال: يصلي. قال الشافعي رضي الله عنه: فكيف تصحّ الصلاة من الكافر؟! فانقطع أحمد عن الكلام.

Madzhab Imam Ahmad bin Hanbal menyatakan orang yang meninggalkan shalat satu kali saja dengan sengaja, dia dihukumi kafir. Dasarnya adalah zahir teks hadits: “Barangsiapa yang meninggalkan shalat dengan sengaja, dia telah kafir.”

Imam Syafi’i berkata kepadanya: “Jika seseorang yang meninggalkan shalat dengan sengaja dihukumi kafir seperti madzhabmu (pendapatmu), bagaimana cara orang tersebut kembali pada Islam?”

Imam Ahmad bin Hanbal menjawab: “Melakukan shalat.”

Imam Syafi’i berkata lagi: “Bagaimana mungkin shalat orang kafir dipandang sah?!”

Kemudian Imam Ahmad bin Hanbal diam, tidak mengatakan apa-apa lagi. (Fariduddin Attar, Tadzkirah al-Auliyâ’, alih bahasa Arab oleh Muhammad al-Ashîliy al-Wasthâni al-Syâfi’i (836 H), Damaskus: Darul Maktabi, 2009, hlm 272).

Perbedaan pendapat adalah hal yang lumrah dalam dunia akademik. Jika tidak ada perbedaan pendapat, khazanah keilmuan kita tidak akan sekaya ini. Kitab-kitab keagamaan akan terlihat ramping. Tidak ada kitab yang berjilid-jilid dan kaya informasi. Dari sudut pandang ini, perbedaan pendapat adalah rahmat, bentuk kasih sayang Tuhan yang Maha Berpengetahuan kepada umat manusia. Tinggal bagaimana kita melestarikannya.

Kisah di atas mengajarkan kita pentingnya untuk mengetahui bagaimana proses hukum fiqih terjadi. Misalnya hadits riwayat Imam Muslim yang mengatakan, “al-ghuslu yaum al-jum’ah wâjibun ‘ala kulli muhatalimin—mandi hari jumat wajib bagi setiap muslim yang telah baligh.”

Zahirnya jelas mengatakan kewajiban mandi Jumat, tapi mayoritas ulama menghukuminya sunnah, meski ada juga yang menghukuminya wajib seperti Madzhab Dzahiri. Kenapa hal ini bisa terjadi? Karena ulama tidak gegabah mengambil kesimpulan tanpa melakukan telaah mendalam. Dalam kasus mandi Jumat, para ulama harus mempertimbangkan zahir hadits lainnya.

مَنْ تَوَضَّأَ يَوْمَ الْجُمُعَةِ فَبِهَا وَنِعْمَتْ وَمَنِ اغْتَسَلَ فَالْغُسْلُ أَفْضَلُ

“Barangsiapa yang berwudlu di hari jumat maka cukup baginya dan baik. Barangsiapa yang mandi jumat, maka mandi itu lebih utama.” (H.R. Imam Tirmidzi dan Imam Abu Daud)

Atas dasar hadits di atas, mayoritas ulama mengatakan bahwa mandi Jumat hukumnya sunnah, bukan wajib. Begitupun dengan diskusi Imam Syafi’i dan Imam Ahmad bin Hanbal tentang kedudukan orang yang meninggalkan shalat.

Imam Syafi’i tentunya tahu dasar argumentasi Imam Ahmad bin Hanbal. Tapi Ia pun tidak bisa mengabaikan hadits tentang larangan mudahnya mengkafirkan orang (HR. Imam Muslim): “man da’â rajulan bi al-kufr aw qâla ‘aduwwa Allah wa laisa kadzalik illâ hâra ilaih—barang siapa yang mendakwa seseorang dengan kekufuran, atau menyebutnya musuh Allah, sedangkan dia tidak seperti itu, hal tersebut akan kembali pada yang mengucapkannya.”

Dalam Madzhab Syafi’i, orang yang meninggalkan shalat bisa dikatakan kafir ketika dia meninggalkannya karena mengingkari kewajiban shalat (jâhidan li wujûbihi). Akan tetapi, jika meninggalkannya karena malas (kaslan) dan menyepelekan (tahâwun), orang tersebut tidak dihukumi kafir, tetapi berdosa. (Fariduddin Attar, 2009, 272).

Karena itu sangat penting untuk memahami keragaman hukum fikih untuk memperluas pengetahuan kita. Orang yang berpengetahuan luas, biasanya tidak akan mempersulit tapi mempermudah, seperti kisah ulama-ulama kita di masa lalu. Memberikan hukum yang paling mudah untuk masyarakat umum, dan memberikan hukum yang paling berat untuk dirinya sendiri.

Kisah di atas mengajarkan kita beberapa hal. Pertama, jangan mudah menyalahkan amalan orang lain, siapa tahu dia mempunyai dasar hukum dalam amalannya itu. Kedua, pentingnya mempelajari mekanisme pengambilan hukum fiqih (ushul fiqih), agar pemahaman kita terhadap zahir teks lebih dekat dengan pemahaman yang benar.

Ketiga, pentingnya mengetahui keragaman pendapat ulama. Ketika perbedaan pendapatnya masih dalam wilayah furu’iyyah, tidak perlu menyalahkan satu sama lain. Setiap pendapat memiliki dasarnya sendiri-sendiri.

Tergantung pada kekuatan nalar kita. Kita diberi kebebasan untuk memilih mana pendapat yang lebih kuat, meski belum tentu pendapat yang menurut kita lebih kuat, lebih benar dari pendapat lainnya.

Keempat, pintu taubat selalu terbuka. Imam Syafi’i enggan menyebut orang yang meninggalkan shalat sebagai orang kafir. Ia memandang semua manusia memiliki kesempatan yang sama untuk kembali kepada Allah. Pendekatannya tidak menakuti orang-orang yang terlanjur bermaksiat, tapi merangkul mereka.

Kelima, mencari kebenaran, bukan kemenangan. Pada akhir diskusi, Imam Ahmad bin Hanbal diam. Artinya, Ia membenarkan pendapat Imam Syafi’i. Ia tidak ngotot mempertahankan pendapatnya, tapi menerimanya dengan tidak melakukan bantahan. Karena yang mereka cari dari debat atau diskusi tersebu bukanlah kemenangan atau kemewahan intelektual, melainkan kebenaran.

PERTANYAANNYA.... SEBERAPA BANYAK KITA LUANGKAN WAKTU KITA UNTUK BELAJAR DENGAN GURU YANG BENAR-BENAR MUMPUNI....?? JIKA BELUM,, KENAPA KITA MUDAH MENGOMENTARI WILAYAH DI LUAR KEAHLIAN KITA, BAHKAN MENYALAHKANNYA...!!
SEMOGA KITA SEMUA TERHINDAR DARI HAL TERSEBUT.. AAMIIN... 

Sabtu, 24 November 2018

2 Umar Yang Hebat Dan 1 Umar,, Saya..

Ada 2 UMAR dalam sejarah Islam, yang dikenal dan dikenang sebagai Khalifah yg JUJUR, TEGAS, BIJAKSANA serta sangat teguh dalam AKIDAH.. Dan saya adalah salah satu dri beribu ribu orang yang suka, hurmat dan takdzim kepada beliau,, sehingga nama ku ta tambahi UMAR..... 

Yang pertama tentu saja Umar bin Khatab (RA), Khalifah kedua yang menggantikan Abu Bakar Ashsiddiq (RA), dan yang kedua adalah Umar bin Abdulazis, Khalifah ke 8 keturunan Umayyah.

Tak perlu dikisahkan tentang kedua Umar tersebut, karena perilaku mereka sudah begitu termasyur, bahkan mudah dicari literatur tentang kiprah mereka. Subhanalloh.. 

Yang menarik adalah, kedua tokoh hebat yang dikisahkan telah membawa kejayaan Islam serta kesejahteraan umat itu, wafat karena DIBUNUH.. 
😱😱😱

Umar bin Khatab wafat ditikam saat menjadi Imam Sholat Shubuh, oleh Abu Lu'lu'ah, tokoh Majusi yang menyusup diantara kaum Muslimin karena dendam, sebab kaum Majusi di Persia telah dikalahkan oleh pasukan Muslim, sehingga banyak orang Majusi yang kemudian menjadi Muslim.

Sedangkan Umar bin Abdul Azis wafat diracun oleh kerabatnya sendiri, karena kebijakan-kebijakannya Yang tidak berpihak pada kepentingan keluarga (Bani Umayyah), dan lebih mementingkan kepentingan umat.

Dari kisah beliau berdua di atas, dapat lah SAYA ambil kesimpulan,, bahwa ketika kita ada rasa TIDAK SUKA kepada Pemimpin, terkadang kita perlu merenung atau berpikir, benarkah Pemimpin itu layak untuk TIDAK DISUKAI karena "buruk", atau karena kita yang BELUM SIAP dengan kepemimpinannya, karena kepentingan-kepentingan kita terganggu dan merasa tersingkirkan....???

Monggo di renungi,, sambil ngopi item 'giehh....