Di bawah ini adalah sebagian kecil dari akhlak mulia Nabi Muhammad SAW, Saya hanya khawatir jika akhlak Rasul SAW tidak dikabarkan, ada sebagian kalangan yang beranggapan bahwa apa yang mereka lakukan itu mengikuti jejak Baginda Rasulullah SAW,....Rasul SAW tidak pernah berakhlak seperti itu.. Seperti yang baru baru ini viral di Tipi,, Soal sebagian kecil dzurriyyah Nabi yang berkelakuan jauh dari Akhlaq Nabi SAW...
Shollu Alannabi Muhammad Shollallohu Alaihi Wasallam....
Al-Imam At-Tirmizi di dalam kitab AsSyamaail meriwayatkan sebuah dialog antara Al-Husein bin Ali dengan ayahnya (Ali ibn Abi Thalib).
«قال الحسين: سألت أبي عن سيرة النبي صلى الله عليه وسلم في جلسائه فقال: كان رسول الله صلى الله عليه وسلم
Al-Husain Radiyallahu 'anhu berkata : " Aku pernah bertanya kepada ayahku ( Ali bin Abi Thalib ) mengenai kehidupan Rasulullah SAW di tengah-tengah para sahabatnya. Imam Ali KRW menjelaskan bahwa Rasulullah SAW adalah :
دائم البشر
Seorang yang berwajah ramah dan ceria
سهل الخلق، لين الجانب
Akhlaq dan perilaku yang yang lembut
ليس بفظ ولا غليظ ولا صخاب ولا فحاش ولا عياب ولا مشاح
Tidak pernah membuat jahat, ucapan dan perbuatannya tidak kotor, tidak suka memprotes dan mencela orang lain, tidak berlebih-lebihan dalam memuji.
يتغافل عما لا يشتهي،
Mudah melupakan hal-hal yang tidak berkenan di hatinya ( tidak menyimpan dendam ).
ولا يؤيس منه راجيه ،
Tidak memutuskan harapan orang lain
ولا يجيب فيه،
Berusaha membuat orang lain optimis
قد ترك نفسه من ثلاث: المراء والإكثار وما لا يعنيه ،
Berusaha menjauhi tiga perkara: perselisihan dengan orang lain ( dalam perkataan dan harta ), boros berkata-kata dan dengan harta, menjauhi segala sesuatu yang tidak bermanfaat.
وترك الناس من ثلاث: كان لا يذم أحدا ولا يعيبه ولا يطلب عورته ، ولا يتكلم إلا فيما رجا ثوابه
Nabi SAW menjauhi manusia yang kerap melakukan 3 perkara: (1) Suka mencela dan menghina orang lain, (2) membuka aib( kejelekan ) orang lain, (3) berbicara dengan orang lain tanpa manfaat
وإذا تكلم أطرق جلساؤه كأنما على رؤوسهم الطير ،
Jika Rasulullah SAW bersuara, para sahabat akan menundukkan kepala mereka seakan-akan di atas kepala mereka terdapat suatu beban. (Khusyuk mendengarkan)
فإذا سكت تكلموا،
Apabila Baginda diam (telah selesai bicara) barulah para sahabat berbicara
لا يتنازعون عنده الحديث،
Mereka tidak berselisih pandangan di hadapan Baginda SAW
من تكلم عنده أنصتوا له حتى يفرغ،
Siapa pun berbicara dengan Baginda SAW, sahabat yang lain akan diam memerhatikan hinggalah orang itu selesai berbicara
حديثهم عنده حديث أولهم،
Baru disusuli oleh perbicaraan yang berikutnya
يضحك مما يضحكون منه
Baginda SAW akan tertawa hanya apabila mereka tertawa (tidak tertawa duluan/tersenyum)
ويتعجب مما يتعجبون منه
Baginda mengagumi sesuatu yang dikagumi oleh mereka
ويصبر للغريب على الجفوة في منطقة ومسألته، حتى إذا كان أصحابه ليستجلبونهم .
Baginda SAW bersabar atas sikap kasar dan permintaan orang asing (yang belum mengenali Baginda ), hingga para sahabat pun ikut memerhatikan permintaan orang asing tersebut.
«ويقول: إذا رأيتم طالب حاجة يطلبها فأرفدوه .
Baginda SAW bersabda : " Apabila kamu melihat seseorang yang mencari sesuatu yang diperlukan , maka bantulah ia ".
ولا يقبل الثناء إلا من مكافىء ،
Baginda SAW tidak menerima pujian atas apa yang tidak Baginda kerjakan
ولا يقطع على أحد حديثه حتى يجوز فيقطعه بنهي أو قيام» .
Baginda SAW tidak suka memotong perbicaraan orang lain kecuali pada perkataan-perkataan yang tidak baik sehingga Baginda dapat mencegahnya atau Baginda terus berdiri lalu meninggalkannya.
Ini hanya sebagian kecil akhlak Rasulullah SAW yang telah dibuktikan oleh sejarah dan diakui oleh lawan maupun kawan. Masih banyak akhak mulia beliau SAW yang bisa kita temukan dari sejarah kehidupan Beliau.
Jika Nabi SAW begitu indah dan mulia dengan akhlak. Lalu kemudian Habib muda yang ceramahnya suka maki2 orang itu ngikutin akhlak siapa?? Pikir sendiri aja.
Semoga kita selaku umatnya senantiasa diberikan kemudahan untuk meneladani Beliau SAW.
Aamiin Aamiin Aamiin Yaa Robbal Aalamiin....
Senin, 24 Desember 2018
Kamis, 06 Desember 2018
Debat Itu Jangan Marah Marah,, Slow, Bro..
●Debat Imam Syafi'i dan Imam Ahmad bin Hanbal tentang orang yang meninggalkan shalat.
Dalam kitab Tadzkirah al-Auliya’, Fariduddin Attar merekam diskusi Imam Syafi’i dan Imam Ahmad bin Hanbal tentang kedudukan orang yang meninggalkan shalat. Diceritakan:
أنه ذهب أحمد بن حنبل إلي أنّ تارك صلاة واحدة عمدا يكفر, عملا بظاهر الحديث: (من ترك صلاة متعمّدا فقد كفر). قال له الشافعي رضي الله عنه: إذا ترك أحد صلاة عمدًا وكفر كما هو مذهبك, كيف يعمل ليرجع إلي الإسلام؟ قال: يصلي. قال الشافعي رضي الله عنه: فكيف تصحّ الصلاة من الكافر؟! فانقطع أحمد عن الكلام.
Madzhab Imam Ahmad bin Hanbal menyatakan orang yang meninggalkan shalat satu kali saja dengan sengaja, dia dihukumi kafir. Dasarnya adalah zahir teks hadits: “Barangsiapa yang meninggalkan shalat dengan sengaja, dia telah kafir.”
Imam Syafi’i berkata kepadanya: “Jika seseorang yang meninggalkan shalat dengan sengaja dihukumi kafir seperti madzhabmu (pendapatmu), bagaimana cara orang tersebut kembali pada Islam?”
Imam Ahmad bin Hanbal menjawab: “Melakukan shalat.”
Imam Syafi’i berkata lagi: “Bagaimana mungkin shalat orang kafir dipandang sah?!”
Kemudian Imam Ahmad bin Hanbal diam, tidak mengatakan apa-apa lagi. (Fariduddin Attar, Tadzkirah al-Auliyâ’, alih bahasa Arab oleh Muhammad al-Ashîliy al-Wasthâni al-Syâfi’i (836 H), Damaskus: Darul Maktabi, 2009, hlm 272).
Perbedaan pendapat adalah hal yang lumrah dalam dunia akademik. Jika tidak ada perbedaan pendapat, khazanah keilmuan kita tidak akan sekaya ini. Kitab-kitab keagamaan akan terlihat ramping. Tidak ada kitab yang berjilid-jilid dan kaya informasi. Dari sudut pandang ini, perbedaan pendapat adalah rahmat, bentuk kasih sayang Tuhan yang Maha Berpengetahuan kepada umat manusia. Tinggal bagaimana kita melestarikannya.
Kisah di atas mengajarkan kita pentingnya untuk mengetahui bagaimana proses hukum fiqih terjadi. Misalnya hadits riwayat Imam Muslim yang mengatakan, “al-ghuslu yaum al-jum’ah wâjibun ‘ala kulli muhatalimin—mandi hari jumat wajib bagi setiap muslim yang telah baligh.”
Zahirnya jelas mengatakan kewajiban mandi Jumat, tapi mayoritas ulama menghukuminya sunnah, meski ada juga yang menghukuminya wajib seperti Madzhab Dzahiri. Kenapa hal ini bisa terjadi? Karena ulama tidak gegabah mengambil kesimpulan tanpa melakukan telaah mendalam. Dalam kasus mandi Jumat, para ulama harus mempertimbangkan zahir hadits lainnya.
مَنْ تَوَضَّأَ يَوْمَ الْجُمُعَةِ فَبِهَا وَنِعْمَتْ وَمَنِ اغْتَسَلَ فَالْغُسْلُ أَفْضَلُ
“Barangsiapa yang berwudlu di hari jumat maka cukup baginya dan baik. Barangsiapa yang mandi jumat, maka mandi itu lebih utama.” (H.R. Imam Tirmidzi dan Imam Abu Daud)
Atas dasar hadits di atas, mayoritas ulama mengatakan bahwa mandi Jumat hukumnya sunnah, bukan wajib. Begitupun dengan diskusi Imam Syafi’i dan Imam Ahmad bin Hanbal tentang kedudukan orang yang meninggalkan shalat.
Imam Syafi’i tentunya tahu dasar argumentasi Imam Ahmad bin Hanbal. Tapi Ia pun tidak bisa mengabaikan hadits tentang larangan mudahnya mengkafirkan orang (HR. Imam Muslim): “man da’â rajulan bi al-kufr aw qâla ‘aduwwa Allah wa laisa kadzalik illâ hâra ilaih—barang siapa yang mendakwa seseorang dengan kekufuran, atau menyebutnya musuh Allah, sedangkan dia tidak seperti itu, hal tersebut akan kembali pada yang mengucapkannya.”
Dalam Madzhab Syafi’i, orang yang meninggalkan shalat bisa dikatakan kafir ketika dia meninggalkannya karena mengingkari kewajiban shalat (jâhidan li wujûbihi). Akan tetapi, jika meninggalkannya karena malas (kaslan) dan menyepelekan (tahâwun), orang tersebut tidak dihukumi kafir, tetapi berdosa. (Fariduddin Attar, 2009, 272).
Karena itu sangat penting untuk memahami keragaman hukum fikih untuk memperluas pengetahuan kita. Orang yang berpengetahuan luas, biasanya tidak akan mempersulit tapi mempermudah, seperti kisah ulama-ulama kita di masa lalu. Memberikan hukum yang paling mudah untuk masyarakat umum, dan memberikan hukum yang paling berat untuk dirinya sendiri.
Kisah di atas mengajarkan kita beberapa hal. Pertama, jangan mudah menyalahkan amalan orang lain, siapa tahu dia mempunyai dasar hukum dalam amalannya itu. Kedua, pentingnya mempelajari mekanisme pengambilan hukum fiqih (ushul fiqih), agar pemahaman kita terhadap zahir teks lebih dekat dengan pemahaman yang benar.
Ketiga, pentingnya mengetahui keragaman pendapat ulama. Ketika perbedaan pendapatnya masih dalam wilayah furu’iyyah, tidak perlu menyalahkan satu sama lain. Setiap pendapat memiliki dasarnya sendiri-sendiri.
Tergantung pada kekuatan nalar kita. Kita diberi kebebasan untuk memilih mana pendapat yang lebih kuat, meski belum tentu pendapat yang menurut kita lebih kuat, lebih benar dari pendapat lainnya.
Keempat, pintu taubat selalu terbuka. Imam Syafi’i enggan menyebut orang yang meninggalkan shalat sebagai orang kafir. Ia memandang semua manusia memiliki kesempatan yang sama untuk kembali kepada Allah. Pendekatannya tidak menakuti orang-orang yang terlanjur bermaksiat, tapi merangkul mereka.
Kelima, mencari kebenaran, bukan kemenangan. Pada akhir diskusi, Imam Ahmad bin Hanbal diam. Artinya, Ia membenarkan pendapat Imam Syafi’i. Ia tidak ngotot mempertahankan pendapatnya, tapi menerimanya dengan tidak melakukan bantahan. Karena yang mereka cari dari debat atau diskusi tersebu bukanlah kemenangan atau kemewahan intelektual, melainkan kebenaran.
PERTANYAANNYA.... SEBERAPA BANYAK KITA LUANGKAN WAKTU KITA UNTUK BELAJAR DENGAN GURU YANG BENAR-BENAR MUMPUNI....?? JIKA BELUM,, KENAPA KITA MUDAH MENGOMENTARI WILAYAH DI LUAR KEAHLIAN KITA, BAHKAN MENYALAHKANNYA...!!
SEMOGA KITA SEMUA TERHINDAR DARI HAL TERSEBUT.. AAMIIN...
SEMOGA KITA SEMUA TERHINDAR DARI HAL TERSEBUT.. AAMIIN...
Sabtu, 24 November 2018
2 Umar Yang Hebat Dan 1 Umar,, Saya..
Ada 2 UMAR dalam sejarah Islam, yang dikenal dan dikenang sebagai Khalifah yg JUJUR, TEGAS, BIJAKSANA serta sangat teguh dalam AKIDAH.. Dan saya adalah salah satu dri beribu ribu orang yang suka, hurmat dan takdzim kepada beliau,, sehingga nama ku ta tambahi UMAR.....
Yang pertama tentu saja Umar bin Khatab (RA), Khalifah kedua yang menggantikan Abu Bakar Ashsiddiq (RA), dan yang kedua adalah Umar bin Abdulazis, Khalifah ke 8 keturunan Umayyah.
Tak perlu dikisahkan tentang kedua Umar tersebut, karena perilaku mereka sudah begitu termasyur, bahkan mudah dicari literatur tentang kiprah mereka. Subhanalloh..
Yang menarik adalah, kedua tokoh hebat yang dikisahkan telah membawa kejayaan Islam serta kesejahteraan umat itu, wafat karena DIBUNUH..
😱😱😱
Umar bin Khatab wafat ditikam saat menjadi Imam Sholat Shubuh, oleh Abu Lu'lu'ah, tokoh Majusi yang menyusup diantara kaum Muslimin karena dendam, sebab kaum Majusi di Persia telah dikalahkan oleh pasukan Muslim, sehingga banyak orang Majusi yang kemudian menjadi Muslim.
Sedangkan Umar bin Abdul Azis wafat diracun oleh kerabatnya sendiri, karena kebijakan-kebijakannya Yang tidak berpihak pada kepentingan keluarga (Bani Umayyah), dan lebih mementingkan kepentingan umat.
Dari kisah beliau berdua di atas, dapat lah SAYA ambil kesimpulan,, bahwa ketika kita ada rasa TIDAK SUKA kepada Pemimpin, terkadang kita perlu merenung atau berpikir, benarkah Pemimpin itu layak untuk TIDAK DISUKAI karena "buruk", atau karena kita yang BELUM SIAP dengan kepemimpinannya, karena kepentingan-kepentingan kita terganggu dan merasa tersingkirkan....???
Monggo di renungi,, sambil ngopi item 'giehh....
Monggo di renungi,, sambil ngopi item 'giehh....
Jumat, 16 November 2018
Ini soal HATI, bro..
Tuhan itu menciptakan segala sesuatunya berpasang-pasangan, ada Gelap pasti ada Terang, ada Baik pasti ada Buruk, ada Musa ada Ramses III (Fir'aun yg jahat).
Ada Kyai pasti ada Penjahat, ada Ustadzah pasti diciptakan pula Pelacur.
Gak ada Manusia yg bisa merubah "peran" manusia lainnya dalam kehidupan ini, kecuali Tuhan, Gusti Alloh Subhanahu Wa Ta'ala...
Manusia sebagai HAMBA Tuhan, bisanya cuma memohon agar Tuhan berkenan menjadikan Manusia yg "tidak baik" menjadi "baik", namun tetap saja semuanya kembali pada KEHENDAK TUHAN.
Seorang Hamba tak akan pernah tahu akan Kehendak Tuhan, bahkan tingkatan Nabi sekalipun, kalaupun tahu, pastilah karena DIBERI TAHU OLEH ALLOH YANG MAHA TAHU.
Tak ada yg bisa merubah Buaya untuk makan Rumput, atau Gajah makan Daging, kecuali atas kehendak PENCIPTA-NYA.
Maka bersyukurlah Hamba Tuhan yg kebagian "peran" jadi Manusia baik-baik utuk tetap menjadi baik-baik, jangan sampai Tuhan "sebel" dan menjadikan sebaliknya .. Robbana laa tuziqqulubana ....
Tuhan menciptakan kita hidup dalam kehidupan kita sebagai Hamba, adalah bagian dari RENCANA-NYA.
Kalau Tuhan sudah "BOSAN" dan "TIDAK SUKA", maka akan dihancurkan, dan musnahlah era ADAM, tergantikan dengan era yg lain ... wallahu a‘lam...
Dapat peran PROTAGONIS ataupun ANTAGONIS dalam kehidupan, ya mestinya terima saja, kalau itu memang KEHENDAK-NYA dan TUHAN RIDHO....,,
Tapi bagaimana kita bisa tahu bahwa itu KEHENDAK TUHAN ?, sementara IBLIS juga bisa mempengaruhi kita, dengan memberikan petunjuk yg seakan berasal dari Tuhan.
Tak cukup hanya diolah dengan Akal Fikir, tapi harus dibarengi dengan LAKU SPIRITUAL,, ngaji babakan ATI, bro...., yg sekiranya dapat mendekatkan seorang Hamba kepada Tuhannya.... ..
Wallohu A'lam.....
Sabtu, 10 November 2018
Kita itu dari Tanah, maka jadilah seperti tanah !!!
Ketika ada kalimat "Manusia berasal dari Tanah", mungkin hampir 100% orang-orang yg punya KEYAKINAN akan sependapat, karena ajaran Agama Samawi memang menyampaikan demikian,,,,,
Itulah yg kemudian (- menurutku -) Manusia seyogyanya BERSIFAT seperti Tanah,,,
Tanah yg terkesan banyak DIAM, selalu "DI BAWAH", tidak bereaksi ketika di injak, di lukai, di kencingi, bahkan di beraki, oleh apapun dan siapapun,,,,
Tanah pasrah dengan segala keberadaannya, dan tetap akan MENGHIDUPI apapun dan siapapun yg membutuhkannya.....
Ketika ada kalimat "Sorga ada di bawah telapak kaki Ibu", aku tetap berfikir tentang Tanah, sebab yg berada di bawah telapak kaki Ibu, pada ujungnya tetaplah Tanah....
Apa gunanya kita memuliakan Ibu kita, bahkan sampai kita minum air cucian kaki Ibu kita, jikalo kita masih berlaku dzolim kepada makhluk lain, masih berlaku keji, masih mencuri milik orang lain dan, masih-masih lainnya....
Bisa jadi Sorganya Gusti Alloh itu, baru akan dapat kita nikmati jika kita bisa mengamalkan SIFAT TANAH, yg selalu Ikhlas dan ridho menerima apa yg menjadi KEHENDAK-NYA. penuh ketaqwaan, Tawaddu, serta dapat BERMANFAAT bagi yg lainnya....
Wallahu a’lam....
Selasa, 09 Oktober 2018
ULAMA (ULAMAA)
ULAMA
Kata ‘ulama adalah bentuk jamak dari kata ‘alim. Kata ini berasal dari akar kata ‘alima—ya’lamu—‘ilman. Di dalam berbagai bentuknya, kata ini disebut 863 kali di dalam Al-Qur’an. Masing-masing dalam bentuk fi’il madhi 69 kali; fi’il mudhari’ 338 kali; dan fi’il amr 27 kali. Selebihnya dalam bentuk ism dalam berbagai variannya sebanyak 429 kali. Sedemikian pentingnya persoalan ilmu, sehingga kata ilmu merupakan kata kedua paling banyak yang diulang-ulang penggunaannya dalam Al-Qur’an. Kata pertama adalah “Allah” dan kata kedua adalah “ilmu”.
Lalu apakah arti ilmu? Pakar mufrodat, kosakata Al-Qur’an, Ar-Raghib Al-Ashfahani dalam karya cemerlangnya, Mu’jam Mufrodat Al-Fazh Al-Qur’an, menjelaskan bahwa ilmu adalah mengetahui hakikat sesuatu (idrokusy sya’i bi haqiiqotih). Pengetahuan dalam konteks ini, ada dua macam. Pertama, pengetahuan tentang sesuatu. Kedua, penilaian terhadap sesuatu setelah melalui proses pengujian mengenai kebenaran atau ketidakbenarannya.
Pada segi lain, ilmu juga terbagi dua yaitu ilmu teoretis (nazhoriyyun) dan ilmu praktis (‘amaliyyun). Ilmu teoretis adalah ilmu yang apabila telah kita ketahui, maka sempurnalah pengetahuan kita (maa idza ‘ulima faqod kamala). Contohnya ilmu tentang fenomena alam. Sedangkan ilmu praktis adalah ilmu yang tidak akan sempurna kecuali dengan mempraktekannya atau mengamalkannya (maa la yatimmu illa bi anya’mala). Contohnya adalah ilmu tentang ibadah.
Dengan demikian, secara leksikal ‘aliim yang merupakan bentuk ism mubalaghah dari ‘aalim, berarti orang yang memiliki pengetahuan tentang zat (hakikat) sesuatu, baik yang bersifat teoretis maupun yang bersifat praktis, atau orang yang memiliki kemampuan untuk memberikan penilaian terhadap berbagai masalah dengan sebaik-baiknya.
Adapun kata ‘ulama hanya disebut dua kali di dalam Al-Qur’an, yakni pada QS. Fathir (35): 28; dan QS. Asy-Syu’ara (26): 197. Di dalam surat Fathir 35: 28, ‘ulama disebut dalam konteks ajakan Al-Qur’an untuk memerhatikan turunnya hujan dari langit, keanekaragaman buah-buahan, gunung, binatang, dan manusia, yang kemudian diakhiri dengan pernyataan, yang artinya: “Sesungguhnya yang takut kepada Allah di antara hamba-hamba-Nya hanyalah ulama”.
Karena itu, konteks makna ayat ke-27 dalam surat Fathir tidak boleh dipisahkan dengan ayat ke-28; sebab kedua ayat tersebut berhubungan satu sama lain. Mari kita lihat arti lengkap kedua ayat tersebut:
“Tidakkah engkau perhatikan bahwa Allah menurunkan dari langit air lalu Kami mengeluarkan dengannya buah-buahan yang beraneka macam warnanya. Dan di antara gunung-gunung ada garis-garis putih dan merah yang beraneka macam warnanya dan ada (pula) yang pekat hitam”.
“Demikian pula manusia, binatang-binatang melata dan binatang-binatang ternak, bermacam-macam warnanya seperti itu (pula). Sesungguhnya yang takut kepada Allah di antara hamba-hamba-Nya, hanyalah ulama. Sesungguhnya Allah Maha Perkasa lagi Maha Pengampun”.
“Demikian pula manusia, binatang-binatang melata dan binatang-binatang ternak, bermacam-macam warnanya seperti itu (pula). Sesungguhnya yang takut kepada Allah di antara hamba-hamba-Nya, hanyalah ulama. Sesungguhnya Allah Maha Perkasa lagi Maha Pengampun”.
Dari rangkaian dua ayat tersebut, terlihat jelas bahwa dari kalangan umat manusia yang benar-benar sanggup merasakan keagungan Ilahi dan kemudian tumbuh dalam diri mereka sikap takwa dan takut (dalam arti positif) kepada-Nya ialah mereka yang memahami secara mendalam eksistensi lingkungannya, sejak dari gejala alam seperti hujan, kemudian gejala kehidupan flora, fauna dan minerologi (gunung-gunung yang berwarna-warni karena kandungan mineralnya) dan akhirnya, gejala kemanusiaan, yang kesemuanya itu sangat beraneka ragam.
Dalam tafsir Fi Zhilalil Qur’an, Sayyid Quthb menamakan fenomena alam semesta yang diuraikan dua ayat tersebut dengan kitab alam semesta yang indah yang disingkap rahasia maknanya oleh para ulama. Para ulama adalah orang-orang yang merenungi kitab semesta yang menakjubkan ini. Karenanya, mereka makrifat terhadap Allah dengan makrifat yang sebenarnya. Mereka mengenal Allah melalui tanda-tanda ciptaan-Nya. Mengenal-Nya melalui tanda-tanda kekuasaan-Nya. Dan, merasakan hakikat keagungan-Nya dengan melihat hakikat ciptaan-Nya.
Selain itu, karenanya pula mereka takut kepada Allah dengan sebenarnya, bertakwa kepada-Nya dengan sesungguhnya, dan beribadah kepada-Nya dengan setulusnya. Bukan dengan perasaan tidak jelas yang didapati oleh hati di depan keagungan semesta. Namun, dengan makrifat yang detail dan ilmu yang langsung. Para ulama ini, mempunyai ilmu yang menyampaikan. Yaitu, ilmu yang dirasakan oleh hatinya, yang menggerakkannya, dan dengannya ia melihat sentuhan “tangan” Allah yang menciptakan warna-warni, celupan, bentuk, dan susunannya dalam alam semesta yang indah itu.
Dengan kata lain, rangkaian ayat tersebut mengisyaratkan bahwa ulama adalah orang-orang yang memiliki pengetahuan tentang ayat-ayat Allah yang bersifat kauniyyah (kosmos) dan ayat-ayat yang bersifat insaniyyah (kosmis). Paling tidak, ulama adalah para ilmuwan yang memiliki pengetahuan tentang natural sciences sekaligus social sciences, yakni menguasai sebagian pengetahuan saintifik sekaligus sebagian pengetahuan yang berhubungan dengan kemanusiaan.
Akan tetapi, sebagaimana dinyatakan dalam ayat di atas, pengetahuan ulama tentang fenomena alam dan kehidupan manusia tersebut haruslah menghasilkan khosyyah. Kata khosyyah menurut Ar-Raghib Al-Ashfahani,
خَوْفٌ يَشُوْبُهُ تَعْظِيْمٌ وَاَكْثَرُ ماَ يَكُوْنُ ذَلِكَ عَنْ عِلْمٍ بِمَا يُخْشَى مِنْهُ, ولذلك خُصَّ العُلَمَاءُ بِهَا
Yakni rasa takut yang disertai pengagungan dan pengagungan tersebut kebanyakan muncul setelah mengetahui apa yang ditakuti. Oleh karena itu, rasa takut yang penuh pengagungan itu hanya dimiliki oleh para ulama.
Yakni rasa takut yang disertai pengagungan dan pengagungan tersebut kebanyakan muncul setelah mengetahui apa yang ditakuti. Oleh karena itu, rasa takut yang penuh pengagungan itu hanya dimiliki oleh para ulama.
Dalam konteks ini pula, pernyataan Al-Qur’an bahwa yang memiliki sifat khosyyah tersebut hanya ulama; mengandung makna penegasan sekaligus pembatasan. Artinya, hanya ulama-lah yang memiliki sifat khosyyah dengan ilmunya dan orang yang tidak memiliki sifat khosyyah tidak layak disebut ulama, meskipun memiliki ilmu yang luas.
Kemudian, dalam surat Asy-Syu’ara ayat 197, kata ulama disebut dalam konteks pembicaraan tentang kebenaran kandungan Al-Qur’an yang telah diakui (diketahui) oleh ulama Bani Israil. Ayat ini mengisyaratkan bahwa ulama juga adalah orang-orang yang memiliki pengetahuan tentang ayat-ayat Qur’aniyyah.
Dari berbagai makna di atas, dapat ditarik suatu pengertian bahwa ulama dalam perspektif Al-Qur’an adalah orang-orang yang memiliki pengetahuan tentang ayat-ayat Allah, baik yang bersifat kauniyyah dan insaniyyah, maupun yang bersifat qouliyyah-qur’aniyyah yang dapat mengantarkan mereka kepada sikap tunduk dan takut yang disertai pengagungan kepada Allah. Inilah pengertian secara ideal dan global tentang kata ulama.
Dari pengertian ulama secara global tersebut, apakah penjelasan tentang ulama sudah mencukupi dan memadai? Apakah makna tersebut sudah lengkap dan selesai? Ternyata belum. Di sini, pengertian ulama, harus kita hubungkan lagi dengan sebuah hadits Nabi Saw yang sangat populer, yakni: ‘al-ulama warotsatul anbiya’; “Para ulama adalah ahli waris para Nabi”.
Secara garis besar, ada empat tugas yang harus dilaksanakan oleh ulama dalam kedudukan mereka sebagai ahli waris pada Nabi. Pertama, menyampaikan ajaran kitab suci (tabligh) karena Rasul diperintahkan:
“Wahai Rasul, sampaikanlah apa yang diturunkan kepadamu dari Tuhanmu. Dan jika tidak engkau lakukan, maka engkau tidak menyampaikan risalah-Nya. Allah memeliharamu dari gangguan manusia” (QS. Al-Maidah 5: 67).
“Wahai Rasul, sampaikanlah apa yang diturunkan kepadamu dari Tuhanmu. Dan jika tidak engkau lakukan, maka engkau tidak menyampaikan risalah-Nya. Allah memeliharamu dari gangguan manusia” (QS. Al-Maidah 5: 67).
Ini menuntut para ahli waris Nabi untuk menyampaikan ajarannya secara baik dan bijaksana, tidak merasa takut dan rikuh, tetapi selalu siap menanggung risiko.
Kedua, menjelaskan tentang kandungan kitab suci. Ini sejalan dengan firman-Nya: “Dan Kami turunkan kepadamu, Al-Qur’an agar kamu jelaskan kepada manusia” (QS. An-Nahl 16: 44).
Ini menuntut ulama untuk terus-menerus mengajarkan kandungan kitab suci, sekaligus terus-menerus mempelajarinya (baca QS. Fathir 35: 29), atau, dalam istilah Al-Qur’an menjadi Rabbaniyin (baca QS. Ali-Imran 3: 79). Ulama atau ilmuwan dituntut untuk memberi nilai rabbani pada ilmu mereka. Ini dimulai sejak motivasi menuntut ilmu sampai dengan penerapan ilmunya dalam kehidupan nyata.
Perlu juga ditegaskan bahwa dalam menyampaikan ajaran kitab suci, ayat ketiga dari wahyu kedua yang diterima Nabi Saw (QS. Al-Muddatstsir 74: 6) menggarisbawahi la tamnun tastaktsir (Janganlah kamu memberi dengan maksud memperoleh imbalan yang lebih banyak). Motivasi untuk memperoleh imbalan yang berlebih, dapat mengantarkan ulama atau ilmuwan tidak memiliki niat suci, baik dalam penelitian dan penerapan ilmunya, maupun dalam pengabdiannya. Dengan kata lain, ulama harus ikhlas dalam pengabdiannya.
Dari upaya mengajar dan mempelajari kitab suci, lahir fungsi ketiga, yaitu memberi keputusan dan solusi bagi problem dan perselisihan masyarakat. Hal ini sejalan dengan firman-Nya:
“Dan Dia (Allah) menurunkan kepada mereka (para Nabi) kitab suci dengan benar agar mereka memutuskan antara manusia apa yang mereka perselisihkan” (QS. Al-Baqarah 2: 213).
“Dan Dia (Allah) menurunkan kepada mereka (para Nabi) kitab suci dengan benar agar mereka memutuskan antara manusia apa yang mereka perselisihkan” (QS. Al-Baqarah 2: 213).
Solusi yang diberikan tidak boleh mengawang-awang di angkasa, dalam arti hanya indah terdengar, tetapi harus membumi, dalam arti dapat dipahami dan diterapkan. Dengan kata lain, dalam menjalani fungsi yang ketiga ini, ulama harus memiliki hikmah. Hikmah, tulis Al-Ashfahani:
اِصَابَةُ الْحَقِّ بِا لْعِلْمِ وَالْعَقْلِ, فَا لْحِكْمَةُ مِنَ اللَّهِ مَعْرِفَةُ الاَ شْيَاءِ
وَاِ يْجَادُهَا عَلَى غَايَةِ الآِحْكَامِ
Jadi hikmah adalah menggapai kebenaran dengan menggunakan ilmu dan akal; sedangkan hikmah dari Allah adalah kemampuan dalam memahami hakikat sesuatu dan mampu mengaplikasikannya dengan arif bijaksana. Dengan kata lain, seorang ulama bukan hanya mampu memahami hakikat kebajikan dan kebenaran, tapi juga mampu mengaplikasikannya dengan benar dan tepat secara kontekstual.
وَاِ يْجَادُهَا عَلَى غَايَةِ الآِحْكَامِ
Jadi hikmah adalah menggapai kebenaran dengan menggunakan ilmu dan akal; sedangkan hikmah dari Allah adalah kemampuan dalam memahami hakikat sesuatu dan mampu mengaplikasikannya dengan arif bijaksana. Dengan kata lain, seorang ulama bukan hanya mampu memahami hakikat kebajikan dan kebenaran, tapi juga mampu mengaplikasikannya dengan benar dan tepat secara kontekstual.
Dari sini, lahir fungsi keempat, yaitu memberi contoh sosialisasi dan keteladanan. Itu sebabnya Nabi Saw dijadikan Allah sebagai teladan (lihat QS. Al-Ahzab 33: 21), dan sebagaimana keterangan istri beliau, Aisyah r.a: “Sikap dan tingkah laku Rasul adalah Al-Qur’an”. Dalam konteks ini, para ahli waris Nabi dituntut bukan sekedar menampilkan yang baik, tetapi yang terbaik.
Sampai di sini, kita melihat betapa dalam, luas, dan luhurnya arti dari kata ‘ulama, tapi sekaligus betapa mulia dan beratnya tanggung jawab yang dipikulnya. Seorang ulama bukan hanya orang yang cerdas, tapi juga tulus ikhlas dalam menyampaikan ilmunya. Seorang ulama bukan hanya orang yang benar-benar menguasai ilmunya secara utuh, tapi juga mampu memberikan solusi-solusi yang arif bijaksana dan kontekstual bagi problematika umat.
Seorang ulama bukan hanya orang yang kreatif menyampaikan ilmu pengetahuan yang dimilikinya, tapi juga memiliki rasa takut yang disertai pengagungan kepada Allah. Seorang ulama bukan cuma orang yang fasih membicarakan beragam wacana ilmu yang dikuasainya secara teoretis, tapi juga sanggup mengamalkan ilmunya secara praktis sekaligus menjadi teladan indah dari semua yang disampaikannya.
Dengan mengetahui makna ulama dan konsekuensinya tersebut, maka tidak mengherankan jika tidak sedikit kaum intelektual dan cendekiawan muslim kita, bahkan sebagian kyai-kyai kita yang sangat alim merasa enggan disebut sebagai ulama. Kalau mereka sudah sangat alim dan benar-benar menguasai ilmu yang dimilikinyya secara holistik, tapi boleh jadi bersama ilmu tersebut mereka merasa belum benar-benar memiliki khossyah yang utuh kepada Allah. Kalau mereka sudah memiliki rasa khosyyah kepada Allah dengan ilmu yang dimilikinya, boleh jadi mereka merasa belum benar-benar tulus ikhlas dalam menyampaikan ilmunya.
Bila mereka sudah ikhlas dalam menyampaikan ilmu yang dimilikinya, bisa jadi mereka belum mampu menawarkan solusi-solusi terbaik dan arif bijaksana untuk mengatasi berbagai persoalan yang dihadapi umatnya. Dan apabila mereka telah sanggup memberikan solusi terbaik dan arif bijaksana, bisa jadi mereka belum mampu menjadi teladan indah dari semua bentuk pengetahuan yang telah disampaikannya selama ini. Karena itulah, mereka masih enggan disebut sebagai ulama, walaupun sebenarnya dalam tataran tertentu mereka memang layak menyandang sebutan sebagai ulama.
Hari ini, kita menyaksikan sebagian orang, bahkan figur yang cukup terdidik dengan begitu mudahnya menyematkan gelar ulama kepada orang yang sesungguhnya tidak layak sedikit pun menyandang gelar ulama. Kita semua tahu, ada interes politik sesaat di situ. Meskipun hal itu tidak pantas dilakukan, tapi itulah realitasnya kalau orang sudah terlibat dalam lingkaran politik praktis. Hal-hal yang naif sekalipun akan mereka lakukan demi meraih keuntungan pragmatis yang mereka dambakan. Dan sejarah kehidupan politik umat manusia, sejak era klasik hingga hari ini, banyak memberi pelajaran amat berharga kepada kita: Siapapun saja yang sudah terlibat dalam lingkaran partisan politik praktis, maka demi setampuk jabatan dan tahta kekuasaan, kejernihan hati nurani mereka akan hilang dan nalar sehat mereka menjadi tumpul.
Wallahu a’lam bish showab.
Rabu, 01 Agustus 2018
Islam (di) Nusantara
ISLAM (DI) NUSANTARA
Islamnya shalat, tetap,,
Nusantaranya ditambahi puji-pujian sebelum shalat, sambil nunggu yang masih pulang dari sawah. Biar pada denger dikasih tau pake bedug dan kentongan!
Nusantaranya ditambahi puji-pujian sebelum shalat, sambil nunggu yang masih pulang dari sawah. Biar pada denger dikasih tau pake bedug dan kentongan!
Islamnya nyuruh baca kalimah thayyibah,
Nusantaranya ada tahlilan, dzikir sehabis shalat,, kalo nggak bareng-bareng suka lupa soalnya.
Nusantaranya ada tahlilan, dzikir sehabis shalat,, kalo nggak bareng-bareng suka lupa soalnya.
Islamnya haji ke Mekah,
Nusantaranya ada manasik dulu di alun-alun pakai triplek, miniatur ka'bah. Maklum, jauh, nggak pernah liat. Tahunya sini Borobudur pas study tour!
Nusantaranya ada manasik dulu di alun-alun pakai triplek, miniatur ka'bah. Maklum, jauh, nggak pernah liat. Tahunya sini Borobudur pas study tour!
Islamnya nyuruh bersedekah,
Nusantaranya ada bagi-bagi berkat (full gizi).
Nusantaranya ada bagi-bagi berkat (full gizi).
Islamnya nyuruh orang kenal nabi,
Nusantaranya ada peringatan maulid nabi, sholawatan dan pembacaan al-berzanji (biografi nabi).
Nusantaranya ada peringatan maulid nabi, sholawatan dan pembacaan al-berzanji (biografi nabi).
Maklum, kenalnya Gatotkaca sama Wirosableng pendekar 212.
Islamnya nyuruh orang saling memaafkan,
Nusantaranya ada tradisi mudik, sungkem dan halal bihalal pasca lebaran.
Nusantaranya ada tradisi mudik, sungkem dan halal bihalal pasca lebaran.
Islamnya nyuruh nutup aurat,
Nusantaranya pake sarung dan peci. Pake sorban, blangkon, atau jeans juga nggak papa, asal jangan ketat-ketat. Kalo ke sawah pake jubah ribet soalnya.
Nusantaranya pake sarung dan peci. Pake sorban, blangkon, atau jeans juga nggak papa, asal jangan ketat-ketat. Kalo ke sawah pake jubah ribet soalnya.
Islamnya nyuruh berkurban,
Nusantaranya pakai kambing atau sapi (tak ada unta coy). Kalau ngambil di kebun binatang ntar ditangkap Pak Tito Karnavian.
Nusantaranya pakai kambing atau sapi (tak ada unta coy). Kalau ngambil di kebun binatang ntar ditangkap Pak Tito Karnavian.
Islamnya nyuruh "tafaqquh fid-dien,"
Nusantaranya ada TPQ, pesantren, UIN/STAI/STAIN dll.
Nusantaranya ada TPQ, pesantren, UIN/STAI/STAIN dll.
Islamnya nyuruh selalu inget Allah,
Nusantaranya ada majelis dzikir, istighasah, pengajian akbar (sampe nutup jalan segala).
Nusantaranya ada majelis dzikir, istighasah, pengajian akbar (sampe nutup jalan segala).
Islamnya nyuruh baca dan dengerin al-Quran (meski cuma denger, pahalanya sama, hlo),
Nusantara-nya ada semaan al-Quran, atau minimal ya yasinan (hatinya Quran). Simple toh,,
Nusantara-nya ada semaan al-Quran, atau minimal ya yasinan (hatinya Quran). Simple toh,,
Islamnya nyuruh bikin "ummatan wasathan" (ummat yang moderat),
Nusantaranya ada ormas Islam. Meski sekarang ada ormas yang serem...
Nusantaranya ada ormas Islam. Meski sekarang ada ormas yang serem...
Islamnya nyuruh mengenang nenek moyang agar tahu asal-usul dan "tempat kembali" (bahkan sampai Nabi di Mi'rajkan agar tahu leluhur dan kelak juga kita mati) dan napak tilas sejarah Nabi Adam as dan Nabi Ibrahim as dalam haji,
Nusantaranya - selain haji tadi - ada tradisi ziarah walisongo, makam leluhur dan haul.
Nusantaranya - selain haji tadi - ada tradisi ziarah walisongo, makam leluhur dan haul.
Islamnya nyuruh menghormati dan memuliakan tamu,
Nusantaranya - khususnya di beberapa daerah tertentu - selalu disilakan makan (Jawa: disuguh). Gratis,bro...
Nusantaranya - khususnya di beberapa daerah tertentu - selalu disilakan makan (Jawa: disuguh). Gratis,bro...
Islamnya nyuruh laki-laki disunat (dikhitan) "itu"-nya (sakit banget tau, nggak lagi-lagi),
Nusantaranya si anak ditumpakin ke kuda, diarak, karnaval rame-rame, namanya khitanan massal. Selain tasyakuran dan potensi wisata budaya (soalnya banyak yang nonton dan jualan) , juga biar yang dikhitan seneng dan lupa sakitnya!
Nusantaranya si anak ditumpakin ke kuda, diarak, karnaval rame-rame, namanya khitanan massal. Selain tasyakuran dan potensi wisata budaya (soalnya banyak yang nonton dan jualan) , juga biar yang dikhitan seneng dan lupa sakitnya!
Islamnya nyuruh mengormati orang tua,
Nusantaranya - antara lain - berbahasa kromo dan mencium tangan orang tua, dan ngopeni. (Nggak dititipin di panti jompo kayak di AS).
Nusantaranya - antara lain - berbahasa kromo dan mencium tangan orang tua, dan ngopeni. (Nggak dititipin di panti jompo kayak di AS).
Islamnya melarang memanggil Nabi dengan namanya saja,
Nusantaranya ada "Kanjeng" Nabi Muhammad, atau Sayyidina. Jangankan pada Nabi, (maaf, tidak bermaksud merendahkan; profesi ini mulia) sama tukang parkir aja kita manggil "Pak" atau " Mas".
Nusantaranya ada "Kanjeng" Nabi Muhammad, atau Sayyidina. Jangankan pada Nabi, (maaf, tidak bermaksud merendahkan; profesi ini mulia) sama tukang parkir aja kita manggil "Pak" atau " Mas".
Islamnya nyuruh jomblo untuk nikah dengan segala syarat dan rukunnya, plus resepsi,
Nusantaranya ditambahin baju, adat dan tradisi khas pernikahan, pesta nanggap wayang, gambus atau orkes dangdut ala Bang Haji Rhoma Irama...
Nusantaranya ditambahin baju, adat dan tradisi khas pernikahan, pesta nanggap wayang, gambus atau orkes dangdut ala Bang Haji Rhoma Irama...
Islamnya nyuruh " Iqra' " , membaca dan belajar,
Nusantaranya ada tradisi penulisan "kitab pegon" (berbahasa jawa, sunda, melayu, dll), juga syair, tembang, lagu, cerita wayang, film dll, untuk mengajarkan agama pada masyarakat...
Nusantaranya ada tradisi penulisan "kitab pegon" (berbahasa jawa, sunda, melayu, dll), juga syair, tembang, lagu, cerita wayang, film dll, untuk mengajarkan agama pada masyarakat...
Islamnya nyuruh diskusiin kalau ada problem ummat (wasyaawirhum fil amri),
Di sini ada "musyawarah", "bahtsul masail", sidang MPR, dll.
Di sini ada "musyawarah", "bahtsul masail", sidang MPR, dll.
Islamnya nyuruh kita bikin negara yang aman, "baladil amin",
Nusantaranya ada Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI).
Nusantaranya ada Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI).
Islamnya ngajarin bikin kesepakatan dalam membikin negara: "Piagam Madinah", yang mengayomi semua agama dan suku.
Nusantaranya ada "Pancasila" yang isinya senafas dengan islam, dan di terima di Indonesia yang bhineka tunggal Ika..
Nusantaranya ada "Pancasila" yang isinya senafas dengan islam, dan di terima di Indonesia yang bhineka tunggal Ika..
Merdeka
Merdekaaaa
MERRRDEKAAA
Merdekaaaa
MERRRDEKAAA
Label:
agama Islam,
belajar Islam,
ilmu Islam,
islam,
Islam di Nusantara,
Islam Indo,
Islam Indonesia,
Islam moderat,
Islam Nusantara,
Islam sekarang,
Islami,
mengaji
Kamis, 12 Juli 2018
Islam ya Islam ( Nusantara)
Dhawuh Kyai-ku ;
"yang bergamis bersorban WAJAH-nya SENYUM itu itba' Kanjeng Rosul, yang bergamis bersorban WAJAH-nya SANGAR itu itba' Abu Jahal... "
tak tambahi ;
"yang sarungan berpeci WAJAH-nya SENYUM itu orang Nusantara yang beragama Islam, yang sarungan berpeci WAJAH-nya SANGAR itu orang Islam yang KEBETULAN tinggal di Nusantara"
Jadi bukan perkara bagaimana CARA-nya, tapi bagaimana isi hatinya.
Orang Nusantara yang beragama Islam, tak akan rela Nusantara ini diacak-acak, diadu domba, diganti kelir, apalagi mau di-RUBAH, sementara orang Islam yang tinggal di Nusantara bisa jadi TAK AKAN PEDULI, sebab tak punya rasa memiliki.,,,
Jadi kesimpulannya, ISLAM NUSANTARA bukan sesuatu yg baru, tapi cara orang NUSANTARA beragama ISLAM, yang menanamkan 6 Rukun Iman dalam jiwanya, menjalankan 5 Rukun Islam dalam kesehariannya, juga CINTA TANAH AIR, CINTA SESAMA MANUSIA, CINTA KERUKUNAN antar UMAT BERAGAMA, CINTA PERSATUAN, SUDI GOTONG ROYONG, TAHLILAN, MAULUDAN, HORMAT KEPADA LELUHUR, HORMAT KEPADA YG TUA, SAYANG KEPADA YG MUDA, ANTI TAKFIRI, ANTI KEKERASAN, MENGHORMATI TRADISI dan, MEMAHAMI KEARIFAN LOKAL...
Ngono lhooo,,,
Ngono lhooo,,,
Paham ya ? .. jangan mengambil kesimpulan kalau belum paham ... aku nyusun kalimatnya udah hati-hati, supaya jangan ada yg sakit hati, jadi jangan tanya-tanya lagi.
Mari kita renungkan dengan NALAR WARAS, mumpung malam Jum'at, bro......
Langganan:
Komentar (Atom)


